home | · | aktual | · | tekno & eco | · | Arsitek Muda Dengan Semangat Bambu
 
> Arsitek Muda Dengan Semangat Bambu
Minggu, 22 April 2012

Oleh Degina Juvita
Foto: dokumentasi Green School

Bambu merupakan salah satu material unik yang banyak dikembangkan di dunia arsitektur. Material ini dikenal murah namun mempunyai banyak keunggulan, termasuk jika digunakan untuk konstruksi bangunan. Salah satu karya arsitektur yang banyak menggunakan bambu adalah sekolah alam Green School di Badung, Bali.

Pada 2006, pembangunan sekolah dimulai dengan membangun jembatan penyeberangan di atas lembah. Memasuki tahun berikutnya, Effan Adhiwira, arsitektur muda lulusan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, bergabung menjadi salah satu arsitek Green School, di bawah naungan PT. Bambu. Di sanalah ia mulai bergelut dengan bambu sebagai material untuk arsitektur.

“Awalnya saya pikir bangunan bambu, paling berupa gazebo seperti rumah-rumah Sunda. Eh, begitu masuk sana, mereka sudah bangun jembatan. Mereka bisa buat yang gila bisa kaya gini ya! Jadi betapa kalau anda kreatif, liat material apapun bisa seoptimal mungkin. Keunggulan bambu adalah tarikannya yang kuat. Lebih kuat dari baja. Murah tapi tarikannya edan-edanan,” seru Effan.

John Hardy, pendiri Green School, membuat desain awal bangunan sekolah tersebut. Latar belakangnya sebagai seniman, membuat ide-ide kreatif yang tadinya sulit dilakukan berhasil terealisasikan. Di situlah peran Effan dan teman-temannya sesama arsitek, untuk menerjemahkan keinginan John Hardy.
Konsep utama Green School, selain menggunakan bambu sebagai material utama, juga mengikuti keadaan alam. “Intinya sekolah hijau yang natural. Menurut John Hardy, kita hidup di alam ya berbaur sama alam. Belajar sama alam,” tambah Effan.

Green School sempat terpilih sebagai finalis dalam Aga Khan Award for Architecture tahun 2010 lalu. Walaupun belum menjadi pemenang, prestasi ini menjadi suatu kebanggaan, menunjukkan bahwa arsitektur bambu di Indonesia sejajar dengan finalis dari berbagai negara lain.

Walaupun sudah tidak bergabung bersama Green School, Effan tetap fokus pada desain dan arsitektur bambu. Ia mendirikan studio desain dan konsultasi arsitektur bambu. Selain itu, Effan juga membentuk komunitas yang diberi nama “Bambu Notion”. Ia kerap berkeliling dari kampus ke kampus, untuk mengenalkan bambu kepada para mahasiswa.

Effan melihat perlunya lebih banyak inovasi. Orang-orang menganggap bambu hanya sebagai material murah dan praktis. Padahal bambu bisa dibuat sekreatif mungkin, asalkan diimbangi desain yang bertanggung jawab. “Setiap material pasti punya karakteristik. Bahkan kayu apapun. Kalau bambu sebenarnya harus dipelajari karakteristiknya. Dia akan lemah pada saat kena air hujan, matahari berulang-ulang. karena seratnya lurus dan ikatannya akan lemah kalau kena suhu tertentu. Jadi itu harus dipelajari bahwa tidak boleh diekspos,” ujar lelaki kelahiran 1982 ini.

Contoh saja jembatan Green School. Desain jembatan dibuat dengan atap yang mirip dengan Rumah Minang. Dasarnya, bambu tidak boleh dibiarkan terkena air hujan dan sinar matahari secara terus-menerus. Hingga akhirnya, Effan dan kawan-kawan, membuat atap besar sebagai pelindung bambu dengan beberapa unsur lain untuk menciptakan desain yang kreatif. “Dan sebenarnya dari segi teknik sipil, itu menggunakan logika struktur,” jelas Effan.

Bambu memiliki banyak jenis dan dapat ditemukan di banyak tempat. Hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas bambu adalah umur dan waktu pemotongan. Orang sering terkecoh dengan penampilan bambu yang besar. Menurut Effan, bambu berumur 4-5 tahunlah yang baik untuk digunakan. Waktu pemotongannya pun harus diperhitungkan. Waktu yang paling baik adalah setelah musim kemarau paling akhir, sebelum musim hujan datang. Pengerjaan konstruksi bambu juga tidak boleh terburu-buru.

Walaupun bambu kerap dianggap material ‘sensitif’, Effan berupaya untuk terus mempelajari karakter bambu dengan segala keunikannya. “Bagi yang suka sama eksperimen dan hal-hal yang dianggap nggak penting sama orang, bambu itu menyenangkan, karena bisa eksploratif”.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Membaca Tata Ruang Kota

Praktek penataan ruang kerap dipahami sebagai wilayah ‘para ahli’, sesungguhnya penataan ruang melekat dalam kehidupan warga dalam kesehariannya.


+ lanjut
Sambut The Blue Rider

Seniman seni digital Perancis ini akan memperkenalkan The Blue Rider sebagai konsep intervensi ruang kota. Motor akan dikendarai oleh pengendara anonim. The Blue Rider akan menjelajah kota-kota di Indonesia pada malam hari, selama 15 Mei hingga 23 Juni—selama Printemps Francais 2013 berlangsung.


+ lanjut
Memadukan Seni dan Teknologi

Seni media baru menjadi ruang ekspresi artistik bagi seniman, baik untuk kritik hingga menjadi media sendiri. Krisna menyadari arus teknologi yang deras-- menembus dinding waktu hingga negara, bahkan menjadi bagian lifestyle, hiburan, kultur, mainstream dan lainnya.


+ lanjut