Oleh Degina Juvita
Beragam rancangan arsitektur dipamerkan di Dia.lo.gue Artspace. Rancangan diciptakan para mahasiswa jurusan Arsitektur Universitas Pelita Harapan, bertajuk “Place.MAKING” pada Sabtu, 7 Juli. Pameran dibuka dan menampilkan karya-karya ruang bertema Place (tempat).
“Arsitektur punya keterbatasan karena pada akhirnya ia menyentuh, menyapa, menyampaikan pesannya kepada para pengguna dan pengamatnya melalui hal-hal praktis; melalui elemen titik, garis, bidang atau lantai, kolom, dan atap. Dari hal-hal praktis inilah kemudian muncul makna-- jika dipahami oleh penggunanya. Oleh karena itu, arsitek harus melihat lebih jauh dan melampui pemahaman bahwa arsitektur bukan hanya ‘olah ruang’ namun sebuah operasi ‘membuat tempat, ”ujar David Hutama, koordinator pameran.
Pameran Place ini menyajikan beragam karya arsitektur mahasiswa dari lima studio, dan sekaligus mata kuliah yang berupaya menunjukkan bagaimana sederhana dan kompleksitas terbaca-- berupa lapisan rajutan teks (konteks) mempengaruhi arsitektur yang hadir. Semisal karya Fernisia Richtia W. Ia memamerkan hasil riset dan rancangan jembatan penghubung bagi pejalan kaki di kawasan Glodok, Jakarta Barat.
Karyanya diberi judul “Glodok Pedestrian Bridge”. Riset Fernisia menunjukkan bahwa Glodok merupakan kawasan yang kurang tepat untuk pejalan kaki, terutama di dua titik yang menjadi fokus utama dalam rancangannya. Area publik di pemukiman [sekolah, tempat ibadah, took] sudah disiapkan dengan strategis. Hanya minus dari segi jalan yang baik. Implikasinya, masyarakat terbawa dalam situasi yang menjemukan (stres). Fernisia menganggap jembatan merupakan solusi yang tepat bagi pejalan kaki.
Sedangkan karya Brenda, menampilkan rancangan dan maket rumah tinggal untuk seorang sutradara film. Rumah dibangun sesuai tujuan dan kebutuhan kerja, sekaligus sebagai rumah tinggal di kawasan gunung berapi yang aktif. Daerah vulkanik menyediakan tanah subur dan sendimen-sendimen bermanfaat-- yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan.
Rumah dibangun diatas garis kontur yang tersedia. Bangunan terbagi dua yaitu rumah tinggal pada (bagian atas), dan rumah kerja (bagian bawah). Ditengahnya terdapat ruang service. Gaya bangunan dibuat mengikuti gaya rumah tua ala Jepang, terinspirasi dari film Totoro. Sedangkan desain sirkulasi ruang diambil dari konsep di film Harry Potter. Alasan utama bangunan di bagi dua—agar tetap terlihat panorama puncak gunung Merapi.
Selain dua karya tersebut, masih banyak karya lainnya yang mengeksplorasi rancangan dari sisi konsep hingga penggunaan material. Pameran arsitektur akan berlangsung hingga 13 Juli, dan akan beralih dengan pameran bertema “Making” pada 14 Juli. “Pameran Making akan bercerita tentang keterampilan yang harus dipunyai seorang arsitek,” tutup David.










