Oleh Degina Juvita
Para mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) memamerkan karya fesyen di Galeri Cipta III. Karya-karya tugas akhir mahasiswa IKJ jurusan Mode dan Busana yang dipamerkan kaya gaya dan inspirasi. Pameran desain fesyen itu bertema “Imagination”.
Ursula Yashinta, memamerkan koleksi bertema “Adventurer Beauty”. Ia terinspirasi Amelia Earhart, penerbang perempuan Amerika yang melakukan penerbangan solo melintasi samudera Atlantik. “Saya salut dengan perempuan-perempuan yang berani mengambil peran laki-laki. Amelia Earhart adalah perempuan yang memotivasi perempuan-perempuan lainnya untuk berani mencoba dunia penerbangan, ”ungkap Ursula.
Inspirasi itu dituangkan dalam palet-palet warna 2013, dengan tema “Victory Force” yang berangkat dari tokoh-tokoh fiktif pada 1930-1940. Ursula memilih tone warna natural dan aplikasi motif peta yang mendominasi desainnya. Koleksinya terdiri dari lima busana ready to wear dan satu busana art wear. Koleksi Ursula ditujukan bagi perempuan bergaya elegan dan sporty. Pada salah satu koleksinya, ia memakai desain dua sisi, dimana terdapat motif peta pada sisi dalam.
Kemudian Surya Abduh yang akrab disapa Uya, menampilkan koleksi busana bertema “Dramatic Scene”. Idenya berasal dari Daphne Guinness, sosialita dari London yang selalu mendapat undangan front row di perhelatan fesyen di berbagai negara. “Gaya dia sangat dramatik dan elegan. Dia adalah seorang seniman, dan sangat peka terhadap perkembangan fashion. Gaya dia sehari-hari pun sangat terlihat bizarre, ”ujar Uya.
Kata “bizzare” berarti aneh. Menurut Uya, fesyen adalah sesuatu yang aneh sekaligus menunjukkan kesan keren. Sosok elite Daphne Guinness juga menjadi inspirasi fesyen penyanyi Lady Gaga. Bahkan Daphne pernah mengeluarkan sebuah kutipan, “Berdosa ketika menggunakan baju yang biasa”. Sebab itulah Uya mengambil inspirasi untuk koleksi ready to wear dan art wear miliknya.
Aplikasi tassel pada dress merupakan inspirasi dari gaya rambut Daphne yang pirang. Untuk cutting-nya, lebih mengedepankan konsep ‘keanehan’ yang diterapkan dalam siluet-siluet yang aneh pula. Warna didominasi [cenderung] warna-warna futuristik, namun memiliki sentuhan etnik. Terdapat motif Kalimantan pada bahan organza, sebagai unsur etnik pada koleksinya. “Untuk permainan anehnya, saya menggunakan logam yang tidak lazim ditaruh dalam sepatu. Semua sepatunya saya bungkus dengan logam, ”imbuh Uya.
Selain koleksi fesyen unik dua mahasiswa, ada mahasiswa lainnya yang memamerkan karya busana dengan tema dan desain beragam. Pameran berlangsung hingga 18 Juli, dan digelar pula Fashion Show pada 17 Juli di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta








