home | · | aktual | · | desain | · | Tawarkan Wisata Arsitektur
 
> Tawarkan Wisata Arsitektur
Rabu, 08 Agustus 2012

Oleh Farida Indriastuti

Foto: Architecture.about.com

Hmmm... Menggelitik memang melihat kenyataan seorang arsitek tidak merekomendasi rumahnya sebagai contoh internasional style. Namun itulah sikap sportif arsitek Philip Johnson. Rumah di kawasan New Canaan, Connecticut, Amerika Serikat, merupakan rumah yang paling indah-- tetapi paling tidak fungsional.

Sungguh hidup dalam akuarium kaca  transparan, tidak memiliki ruang privasi. Philip Johnson meninggal dunia pada 2005 lalu, ialah arsitek peraih penghargaan Pritzker Architecture Prize Laureate.

Johnson sendiri tidak membayangkan tinggal dalam rumah kaca-- meski sekelilingnya terdapat hamparan rumput hijau dan pemandangan indah. Konsep dasar dipinjam dari Mies van der Rohe, yang merancang kaca dan baja Farnsworth House selama periode yang sama.

Berbeda dengan Farnsworth House, rumah kaca Johnson simetris dan berdiri kokoh di tanah yang luas-- dipagari pohon-pohon meneduhkan. Dinding kaca tebal di dukung pilar-pilar baja hitam. Interior dengan lemari kenari rendah dan silinder bata yang mengisi kamar mandi.
Lantai pun bata dipoles dengan rona ungu. Rumah kaca Johnson berdiri di lahan seluas 47 hektar, selain 10 bangunan lain yang dirancang Johnson di lahan yang sama pada periode yang berbeda dalam karirnya.

Tiga bangunan tua lain telah direnovasi Johnson dan David Whitney, seorang kolektor seni terkenal dan kurator museum, yang bermitra dengannya. Johnson sengaja menggunakan rumah kaca sebagai tempat tinggalnya-- dengan memadukan furnitur Bauhaus. Pada 1986, Johnson menyumbangkan rumah kaca ke the National Trust Historic Site, meski ia tetap tinggal disana hingga akhir hayatnya.

Rumah kaca berjuluk “the Glass House” dan dibangun Philip Johnson pada 1949, sekarang dibuka untuk umum sebagai tempat wisata arsitektur. Bagi peminat yang tertarik informasi dan pemesanan tur dapat mengunjungi laman Philipjohnsonglasshouse.org.

Bahkan sejak 2010, the Glass House telah menjalin kerjasama dengan MFA Interaction Design Department, the School of Visual Art, dengan menginisiasi program: Glass House Conversations, diperluas dengan forum digital. Selain program: Oral History Project, Educational Partnership, Conversations in Context dan lain-lainnya.

 

(Sumber: Architecture.about.com/Philipjohnsonglasshouse.org)

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Ciptakan Keharmonisan Kota

Isu perkotaan ini memicu mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta menyelenggarakan Festival Kota Gadjah Mada (Festagama) dengan tema “Reinventing The City: Towards Sustainable Jogja”. Festagama ini diselenggarakan  di Taman Budaya Yogyakarta pada 11-12 Mei 2013. 


+ lanjut
Arsitektur Kuno Tergerus Jaman

Orang-orang Thula pun bereaksi, dan proyek pelestarian pun lahir. Demi melindungi warisan peradaban mereka, proyek akan mulai membangun kembali dinding kedua kuburan dan lahan pertanian-- yang melayani daerah itu lebih dari dua ribu tahun lalu.


+ lanjut
Beramal Bersama Samsonite

Dalam perjalanan waktunya, sejak Samsonite diciptakan oleh pengusaha asal Colorado, Jesse Shwayder, pada 1910 silam-- Samsonite menjadi merek koper global yang terkemuka. Komitmen produk Samsonite dibuktikan dengan beragam terobosan baru; penelitian dan pengembangan teknologi-- hingga inovasi terus menerus.


+ lanjut