Oleh Degina Juvita
Komik merupakan suatu bentuk ekspresi seni menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa, sehingga membentuk jalinan cerita. Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks atau narasi.
Laman Wikipedia menuliskan, pada 1996, Will Eisner menerbitkan buku Graphic Storytelling, di mana ia mendefinisikan komik sebagai "Tatanan gambar dan balon kata yang berurutan dalam sebuah buku komik." Sebelumnya, di tahun 1986, dalam buku Comics and Sequential Art, Eisner mendefinisikan teknis dan struktur komik sebagai sequential art, "Susunan gambar dan kata-kata untuk menceritakan sesuatu atau mendramatisasi suatu ide".
Di Indonesia, cara bercerita menggunakan gambar sudah dikenal sejak zaman kerajaan-kerajaan di nusantara. Salah satu contoh, cara bercerita menggunakan gambar pada masa purbakala adalah relief-relief yang terdapat pada candi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Konon, sejarah komik Indonesia dimulai sejak 1930-an. Kehadiran komik-komik di Indonesia pada 1930-an dapat ditemukan pada media massa Belanda seperti De Java Bode dan D’orient, di mana terdapat komik-komik seperti Flippie Flink dan Flash Gordon. Put On, seorang peranakan Tionghoa adalah karakter komik Indonesia yang pertama, merupakan karya Kho Wan Gie yang terbit rutin di surat kabar Sin Po.
Dari sisi industri, komik Indonesia telah melewati tiga generasi, yaitu 1930-an, 1940-1950-an, dan 1960-1970-an. Hikmat Darmawan, peneliti cum kritikus komik mengungkapkan, “Pada 1955, era R.A. Kosasih dalam bukunya berjudul "Sri Asih", diprotes karena dianggap ke Amerika-an”. Kemudian Kosasih membuat komik wayang yang memiliki unsur cerita rakyat, budaya, dan metodologi yang dicocokkan dengan kondisi Indonesia. Komik dibuat melalui riset pada kitab-kitab, dan diolah sesuai dengan bahasa komik.
Menurut Djair Warni, komikus Indonesia cum pencipta tokoh Jaka Sembung, “Komik Indonesia memiliki konsep yang tidak boleh keluar dari agama dan science. Kita sebagai bangsa yang religius dan kreatif, maka komik kita harus bersifat edutainment”.
Sebelum menciptakan tokoh Jaka Sembung dalam cerita bergenre silat, Djair mengaku lebih senang membuat cerita cinta. Namun karena industri komik saat itu sedang tren cerita silat, Djair menciptakan Jaka Sembung, seorang pendekar yang sifatnya merakyat.
Tahun 1968 didominasi oleh komik cerita silat. Studio-studio film kala itu banyak mendapat keuntungan dari film yang diproduksi berdasar cerita dari komik. Film Panji Tengkorak salah satunya. Ada keterkaitan industri yang kuat antar film dan komik. Namun Hikmat berujar, “Sekarang justru komik yang diduakan. Film yang sudah beredar lalu dibuat komik. Posisi komik tidak ‘hulu’ lagi”.
Lalu bagaimana dengan generasi tiga? Hikmat berpendapat, “Ada kegigihan dan ada kekerasan kepala dari komikus, yang keliatan pada pertengahan 1990-an. Mereka menciptakan moda produksi yang baru”.
Terjadi keragaman tema, cerita hingga cara yang pada akhirnya mengikuti perkembangan masyarakat. Perkembangan teknologi, juga mendukung terciptanya ide-ide dan cara yang berbeda. Namun Hikmat menyayangkan, hal ini belum terjadi di Indonesia.
Dalam produksi komik, ada proses ide, hingga eksekusi di atas kertas, kemudian penjilidan. Kini ada teknologi, orang pun bisa menyebarkan lewat internet. “Industri komik dalam bentuknya, sekarang atau bagaimana pun terkait dengan industri buku di daerah itu, ”ujar Hikmat.
Pembahasan mengenai komik ini, dilakukan dalam kegiatan sarasehan “Komik dari A sampai Z” yang diadakan oleh Bentara Muda, bekerjasama dengan Akademi Samali dan Indonesiakreatif.net. Selain Hikmat Darmawan dan Djair Warni, sarasehan juga dihadiri oleh Sunny Gho sebagai pembicara. Kegiatan ini menjadi rangkaian dari acara “Workshop Komik: Bikin Komik Dari A-Z” di Bentara Budaya Jakarta, 3 – 5 Mei 2012.









