Oleh Bhayu Sugarda
Pada pagi hari di masa yang tak terlalu jauh ke depan, Joko terbangun berkat alarm smart phone-nya. Ia menggeliat malas. Ia meraih perangkat telepon genggamnya yang tergeletak di meja lampu di samping tempat tidur. Jam di layar smart phone dengan bentang layar sebesar 4 inci itu menunjukkan pukul 04:30 WIB, atau sekitar 15 menit sebelum Adzan Subuh berkumandang. Joko pun perlahan bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk wudhu, perlahan karena khawatir akan membangunkan istri dan anak semata wayangnya yang baru berusia 4 bulan.
Selesai wudhu ia pun menggelar sejadah dan memakai sarung. Sembari menunggu Adzan Subuh, ia pun duduk dan membuka salah satu situs tv internet yang menayangkan langsung situasi di seputar Ka’bah, Mekah melalui smart phone-nya. Tangannya meraih tasbih dan mulai membaca Istighfar sembari tak melepaskan pandangan dari layar smart phone. Tak lama, Adzan Subuh terdengar. Ia pun men-‘sleep’-kan smart phone yang sudah semalaman di-‘charge’ sebelum menjalani ibadah shalat Subuh.
Usai shalat Subuh, Joko keluar kamar untuk menyeduh teh kesukaannya. Sembari memasak air, ia pun meraih komputer tablet dari ruang tamu dan meletakkannya pada ‘housing’ sekaligus tempat ‘charge’ yang memang terpasang di dapur. ‘Docking’ tablet ini memungkinkan tablet berdiri sehingga bisa berfungsi sebagai tv layar datar. Joko langsung membuka aplikasi tv streaming sebuah stasiun televisi dijital. Ada program ustadz favoritnya yang disiarkan secara langsung di sana. Ucapan khas ustadz favoritnya itu langsung terdengar nyaring dari speaker komputer tabletnya. Joko pun beberapa kali tersenyum mendengar khotbah yang disampaikan ustadz favoritnya itu, meski matanya tertuju ke ‘mug’ berisi teh kesukaannya.
Tiba-tiba sang ustadz menyampaikan sebuah ayat Al-Qur’an. Joko pun mengalihkan pandangannya ke layar komputer tablet dan bergegas mendekati komputer tablet itu. Jari telunjuknya menyentuh layar sekali di bagian tengah dan sebuah barisan fitur keluar dari samping layar. Telunjuknya lalu menyentuh ikon bertuliskan “Referensi Khotbah”. Sebuah kotak putih bertuliskan ayat Qur’an berikut terjemahannya yang baru saja disebut sang ustadz muncul dari bawah layar dan menutupi sepertiga layar tablet. Di bagian bawah kotak putih itu tertulis “Catatan Kaki”. Joko pun menyentuh tulisan itu dengan telunjuknya dan teks pada kotak putih itu berganti dengan sejumlah catatan tafsir ulama kondang Indonesia.
Merasa cukup dengan tambahan informasi itu, Joko pun kembali menyaksikan tayangan program favoritnya. Telunjuknya menyentuh ikon ‘Back’ di sudut kiri atas layar. Kali ini ia pun menyaksikan selama beberapa menit program televisi itu sembari menyeruput tehnya. Panggilan alam mulai dirasakan Joko. Ia pun meletakkan tehnya di meja dapur dan mengambil tablet dari ‘docking’-nya dan menuju ke kamar mandi. Sebelum masuk kamar mandi, Joko pun mengganti tayangan ke online streaming sebuah channel berita 24 jam melalui aplikasi yang tersedia di layar utama tablet.
Aplikasi online streaming televisi berita Indonesia itu menjadi aplikasi favorit Joko selama ini. Bukan hanya karena dia memang suka televisi berita, tapi fitur-fitur yang tersedia pun membuatnya ketagihan. Seperti misalnya fitur untuk mengetahui konteks dan latar belakang sebuah berita. Ketika ada kecelakaan pesawat dan narasi berita yang ditontonnya menyebutkan bahwa ini merupakan kecelakan ketiga terparah yang pernah dialami Indonesia sejauh ini. Maka tak lama setelah narasi menyebutkan seperti itu akan muncul balon merah di seputar layar utama. Balon merah itu jika disentuh akan memunculkan daftar kecelakaan pesawat yang pernah terjadi hingga beberapa tahun ke belakang. Contoh lainnya adalah ketika narasi berita menyebutkan bahwa hasil analisa black box menyebutkan bahwa kecelakaan terjadi akibat ‘human error’. Maka akan muncul balon merah yang jika disentuh akan memunculkan rekaman suara black box yang sudah dipublikasikan dalam konperensi pers sebelumnya.
Fitur ini betul-betul memabukkan Joko hingga seringkali pintu kamar mandi digedor oleh istrinya yang juga ingin menggunakan toilet. Bahkan jika sudah berkutat dengan data konteks dan latar belakang, Joko dengan sukarela bisa tersesat di tengah banjir data berupa info grafik, foto, audio maupun audio visual. Tapi justru itu yang membuatnya terus kembali menggunakan aplikasi itu.
Ketika saat untuk mandi, ia akan menempatkan tablet itu di ‘docking’ yang tersedia di dinding dekat shower sehingga aplikasi itu berfungsi sebagai radio bagi Joko. Terutama karena pada pagi hari dialog yang ditayangkan menarik untuk didengar. Apalagi dialog itu dipandu presenter favoritnya selama ini. Sungguh Joko sulit melepas keterikatannya dengan aplikasi itu di pagi hari, karena ia tahu saat bekerja tak mungkin ia menyaksikan tayangan channel berita kesayangannya itu.
Tapi jika terjadi sesuatu yang luar biasa seperti gunung meletus, maka kegiatan kantor Joko bisa sesaat berhenti karena semua orang akan menyaksikan secara langsung peristiwa itu dari perangkat konten bergerak mereka masing-masing. Ada yang menggunakan smart phone, tablet atau bahkan laptop. Selain peristiwa seperti bencana alam, peristiwa di bidang hiburan pun juga menjadi alasan orang seperti Joko menyaksikan tayangan langsung secara streaming dari perangkat konten bergeraknya. Misalnya siaran langsung pertandingan tinju. Atau siaran langsung pernikahan ketiga Cinta Laura beberapa waktu lalu. Atau siaran langsung pagelaran musik Golden Oldies yang melibatkan sejumlah artis internasional lawas seperti Lady Gaga dan Katy Perry.
Sungguh tak bisa dihindari nafsu ‘kepo’ manusia Indonesia. Selain itu dorongan untuk merasakan sesuatu secara massal juga sungguh tak bisa dilawan. Sehingga akhirnya ‘event’ atau peristiwa media massa menjadi kunci utama konten perangkat bergerak seperti smartphone dan tablet. Karena konten peristiwa media massa seperti yang disebutkan di atas, adalah konten alamiah dari perangkat bergerak.
Siapa pun berhak menyaksikan film box office di smartphone atau tablet mereka. Tapi tak alamiah jika menyaksikannya di perangkat bergerak. Karena kualitas audio visual film box office adalah untuk layar lebar, sedangkan dengan perangkat bergerak kemampuan orang untuk menikmati konten itu terbatasi oleh besar layar. Selain itu, besar layar perangkat bergerak juga membatasi jangkauan perhatian penontonnya. Mata menjadi cepat lelah sehingga seringkali tak bertahan lama. Tentunya lain cerita jika penontonnya adalah mereka yang ingin membunuh kebosanan dalam menunggu giliran pemeriksaan dokter misalnya.
Lalu kenapa peristiwa media massa disebut sebagai konten alamiah perangkat bergerak? Karena hanya peristiwa media massa yang bisa mendorong orang untuk bertahan lama menyaksikan tayangan langsung itu meski layar perangkat bergerak miliknya membatasi kenikmatan dalam menonton. Karena hanya peristiwa media massa pula yang membuat orang tak mampu menunggu untuk tiba di rumah dulu sebelum bisa menyaksikan tayangan langsungnya. Karena hanya peristiwa media massa juga yang mampu membuat orang rela untuk membayar cukup mahal layanan seperti itu.
Namun, semua ini hanyalah khayalan belaka. Toh, Indonesia masih punya pekerjaan rumah besar dalam hal infrastruktur jaringan internet sebelum semua yang saya ceritakan di atas bisa terjadi.











