Oleh Degina Juvita
Komunitas “Kampus Betawi” (Kampung Anak Muda Pencinta Khusus Betawi) menampilkan pagelaran kolosal sendratari Nyai Dasima. Kisah ini terkait dengan budaya Betawi, dikemas dalam seni pertunjukan [kolaborasi] yang segar.
Dasima, perempuan pribumi dan dinikahi dermawan asal kerajaan Inggris, Sir. Edward William. Keduanya hidup bahagia hingga dikaruniai anak. Namun kebahagiaan seolah sirna dan menjelma menjadi konflik-- saat William pindah bekerja ke Inggris, negeri asalnya. Ia tak dapat membawa Dasima dikarenakan status kewarganegaraan.
Selama suaminya di Inggris, Dasima tetap tinggal di Betawi yang kini berjuluk Jakarta. Saat itulah Dasima bertemu pemuda pribumi bernama Samiun. Dasima terpikat dan jatuh cinta kepada Samiun-- yang telah beristri, bernama Hayati. Konflik batin kian pelik-- tatkala Hayati menuntut harta dan memaksa Samiun merebut harta Dasima.
Pagelaran sendratari ditampilkan dalam balutan kekinian. Nuansa lagu pop dari Melly Goeslaw, jazz, rock, dan musik tradisional Betawi. “Saya mencoba mengangkat unsur kekinian, supaya seni tradisi diangkat ke dalam entertainment (hiburan) dan akan lebih menarik,” ujar Atien, penyelenggara acara.
Sisi artistik panggung pun dipersiapkan matang. Penonton menikmati suasana panggung bercorak Betawi, Inggris, hingga China. Unsur Betawi tampak pada dua ondel-ondel mengapit panggung-- selain simbol bendera Inggris, dan gapura merah berarsitektur China.
Atien dibantu pemuda-pemudi Kampus Betawi, berlatih dan mempersiapkan pementasan selama lima bulan. Para pemeran dalam Nyai Dasima, tidak hanya berlatih mendalami karakter, tapi juga menguasai gerak tubuh [tari]. Untuk koreografi, Atien dibantu oleh sang istri. “Ungkapan gerak lewat tari juga merupakan ungkapan emosi dari pemeran,” imbuh lelaki lulusan Art Management di Korea Selatan ini.
Sendratari Nyai Dasima, merupakan hiburan kesenian Betawi yang ditampilkan di acara pembukaan "Pagelaran Betawi Tempo Doeloe", di Setu Babakan, Jakarta Selatan. Acara ini diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, untuk melestarikan kesenian Betawi yang kian terpinggirkan. Beragam kesenian hingga kuliner khas Betawi hadir dalam rangkaian kegiatan HUT DKI Jakarta ke- 485 yang berlangsung hingga 17 Juni mendatang.










