home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Fantasi Jemari Lincah Jubing
 
> Fantasi Jemari Lincah Jubing
Jumat, 29 Juni 2012

Oleh Yuli Yanti

Sebuah gitar mampu mengubah hidup gitaris klasik Jubing Kristianto. Dia memulai hidup barunya dari nol, setelah 13 tahun menjadi jurnalis di tabloid nasional. Jubing kini dikenal sebagai komposer gitar  musik instrumental beraliran klasik.

Petikan chord  6 senar gitar mengalun, dipetik jari-jari lincah Jubing. Lagu anak-anak lawas “ Becak” karya Ibu Sud, di aransemen ulang-- menjadi musik yang kaya melodi. Diambil dari album pertamanya “Becak Fantasy”. Penonton menyaksikan konser tunggal gitaris finger style ini dengan kekaguman. Usai membawakan satu musik instrumental, tepuk tangan penonton menggema di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta, malam Kamis, 28 Juni.

“Saya menemukan permainan melodi dalam satu chord dari komposer ternama, Johan Sebastian Bach. Ketemu irama 6/8, irama yang saya suka. Irama-irama yang unik membuat saya semangat belajar gitar. Instrument Johan Sebastian Bach seperti melihat arsitektur yang megah,“ ujar Jubing, yang menekuni gitar dari kecil.

Pertunjukkan Jubing di Yogyakarta memang berbeda. Penonton tak hanya disuguhi-- kepiawaian bermain gitar  dengan karakter khas memainkan melodi chord 9 dan  akustik. Tapi juga cerita perjalanannya-- ketika banting setir dari seorang jurnalis menjadi musisi. Konser bertajuk “Jalan Hidup 6 Senar” ini tampak hidup dan diperkaya interaktif antara Jubing dan penonton.

Disusul lagu “Delman” yang di aransemen ulang sama seperti lagu “Becak”. Lagu “Delman Fantasy” pernah meraih juara pertama lomba musik  Yamaha Festival Gitar Indonesia pada 1987 lalu.  Setelah sebelumnya, hanya masuk semifinal dalam perlombaan yang Jubing ikuti sejak 1984. Jubing pun semakin serius menekuni gitar hingga menetaskan album.

Perjalanan musiknya sempat terhenti, ketika pria kelahiran Semarang, 9 April 1966 lalu itu-- mengalami kesulitan ekonomi di keluarganya. Jubing terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Satu-satunya cara yakni menulis. “Sebenarnya tahun itu saya masih kuliah, main  gitar terus. Meskipun akhirnya saya lulus juga. Saya sempat menjadi wartawan tabloid Nova. Pada waktu itu tulisan menghasilkan duit, kirim-kirim  tulisan sampai akhirnya dipanggil kerja di tabloid Nova. Kerjaan saya habis nulis bermain gitar,” kisah Jubing.

Selama 13 tahun riwayatnya menjadi jurnalis-- hingga menempati posisi mapan sebagai Manajer. Takdir berkata lain, Jubing memutuskan memilih hidup sebagai gitaris  dan memulainya karir musiknya dari nol pada 2003. “Orang bilang itu ide gila, saya memutuskan kerja yang sudah 13 tahun. Dulu pertama jadi wartawan bahagia. Ada kesenangan bertemu dengan bermacam-macam orang. Dari yang gembel sampai bertemu Presiden. Saya memulai lagi dari nol, dan  di dukung isteri, ”ujar komposer yang gemar mengaransemen lagu anak-anak.

Jari-jari cergas Jubing beraksi lagi memetik senar gitar.  Beberapa lagu dimainkan santai-- dengan aransemen musik melintas zaman, dan genre berbeda, seperti lagu  anak-anak. Terdengar sound track film “Mission Impossible”, lirik lagu “Sinaran” milik Sheila Madjid, lagu daerah hingga tembang lawas dibawakan Jubing dengan memadukan irama perkusi. Jubing menyulap pertunjukkan gitar tunggalnya bak orkestra, sungguh mengasyikkan.

Di penutup, Jubing didaulat membawakan musik Selamat Ulang Tahun dari Zamrud, sebagai hadiah untuk Koran Kompas yang berulang tahun ke-47, serta dua lagu daerah Rek Ayo Rek dan Bungo Juempa dari Aceh. “Kalau kita punya kecintaan terhadap sesuatu kita suka  menjalaninya nanti akan sukses, saya lebih puas dengan kerja yg saya lakukan sekarang bisa membahagiakan orang,” ujar Jubing yang telah mengeluarkan empat album; Becak Fantasy, Delman Fantasy, Hujan Fantasy dan Kaki Langit.

KOMENTAR
Nama : facebook.com/jubingkristianto
Komentar : Terima kasih Yuli untuk tulisannya yang bagus. Smoga makin sukses dalam karier dan kehidupan.
Nama : Redaksi Satulingkar
Komentar : Sama-sama mas Jubing. Sukses selalu :)
KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Ritme Musik Perupa Erizal

Erizal melukiskan gaya gitaris legendaris Jimi Hendrix, hingga bintang film Marilyn Monroe. Goresannya begitu khas dan menonjol. 


+ lanjut
Senandung Cinta Dik Doank Pada Anak-Anak

Panggung di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) diramaikan harmoni musik dan tarian riang anak-anak Kandank Jurank Doank. Penampilan mereka dipimpin ‘om ganteng’—sapaan akrab Dik Doank oleh anak-anak.


+ lanjut
Ramuan Irama, Lirik dan Aksi Panggung Naif

Jarang terlihat manggung, NAIF sukses memuaskan ratusan mata para penggemarnya di hari terakhir ajang FHM Live! 3 Nights Full of Entertainment di Hard Rock Café Jakarta.


+ lanjut