Oleh Yuli Yanti
Populasi manusia terus bertambah. Mereka terus bergerak tak terkendali, berebut kesempatan dalam situasi sempit. Bagaikan gelombang, sambung menyambung tanpa peduli akan segala akibatnya. Gelombang itu seolah ritme yang terus berdialektika dalam kehidupan seorang pematung Win Dwi Laksono.
Melihat proses kreatif imajinasi Win sungguh luar biasa. Gelombang manusia dengan apik digambarkan Win seperti sebuah gelombang lautan jutaan manusia yang diberi tema “Gelombang Tiang”. Karya-karya patung, relief Win begitu detail menggambarkan ratusan bahkan jutaan tubuh-tubuh manusia yang bergerak. Tubuh-tubuh itu bergerak dalam sebuah pusaran, tempat dan juga pada sebuah cello, alat musik gesek yang biasa dimainkan Win di komunitas keroncongnya. Win membahasakan 16 karya patungnya sebagai “Gelombang Tiang”. Dalam bahasa Jawa atau Bali “Tiang” berarti orang atau aku.
Tak heran, jika pada pembukaan pameran tunggalnya—para tamu antusias, berjubel memadati ruang pamer untuk menyaksikan karya-karya artistik. Win tak hanya dikenal sebagai seorang pematung, dia juga seorang ilustrator komik Asmaraman dan Kho Ping Hoo. Sekaligus terlibat dalam grup musik Sinten Remen pimpinan Djaduk Ferianto. Kini dia membentuk dan memimpin kelompok musik orkes keroncong Susah Tidur.
Kurator Suwarno Wisetrotomo berpendapat, Win tengah dirundung kegalauan tentang situasi dan kenyataan di sekitarnya, baik dalam skala jagad kecil maupun besar yang mengganggu pikirannya. “Ia melihat banyak hal mencemaskan; kebohongan, keingkaran, penghianatan, kemunafikan dan ketidakseimbangan. Kenyataan diluar dirinya, menekan kesadaran dan mendorongnya menjadi renungan yang cocok dengan keyakinan nilai-nilai kehidupan yang dihayatinya selama ini. Berjiwa merdeka, mengerti kekurangan dan kelebihan diri, mentertawakan diri sendiri, rumangsa, dan lain-lain, itulah yang diyakini, ”tulis Suwarno dalam pengantar.
Kepiawaian Win, lahir dari proses kreatif seninya seperti bermusik, hingga dapat membangun imajinasi. Pengalaman menulis lirik lagu memberikan kepekaan bahasa yang kaya untuk mengungkapkan situasi yang resah, kecewa, susah, dan gembira. Dengan kepandaiannya membuat ilustrasi, Win mampu menghidupkan ruang datar dengan membangun ilusi dan gerak. Pada pembukaan pameran, dihibur oleh kelompok musik Solo Saxophone, Susah Tidur dan grup Syalawatan dari Kota Gede. Djaduk Ferianto ikut tampil membawakan lagu-lagu grup Sinten Remen. Pameran ini berlangsung mulai 10 - 18 Juli 2012.









