Oleh Yuli Yanti
Foto: Koleksi Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta
Pelukis Bali, Nyoman Gunarsa kini bergelar Doktor Honouris Causa (DR.HC) dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Gelar kehormatan Doktor HC Seni Lukis Modern diberikan pada 14 Juli 2012 di kampus ISI Yogyakarta. Pengukuhan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap kerja keras Nyoman Gunarsa di dunia seni modern dan juga perjuangannya terhadap Hak Atas Kekayaan Inteletual (HAKI) seniman.
Kreativitas berkesenian seniman serba bisa ini tak diragukan. Aktif berpameran sejak 1962 hingga 2011, dan berkontribusi dalam publikasi seni rupa. Berbagai penghargaan diraihnya baik dari dalam dan luar negeri, diantaranya penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari mantan Presiden RI, Megawati Soekarno Putri. Kini, Gunarsa sibuk berburu lukisan kuno seniman Bali yang diluar negeri untuk dibelinya, dan disimpan untuk koleksi museumnya di Klungkung Bali.
Nyoman Gunarsa memperkaya sejarah seni rupa modern Indonesia. Dia tercatat sebagai pendiri Sanggar Dewata Indonesia (SDI) pada 1970, kala itu berstatus sebagai dosen Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) dan Akademi Seni Rupa (ASRI) Yogyakarta. Terakhir menjadi Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sanggar Dewata terbentuk ditengah perkembangan seni rupa modern, dan riuhnya polemik [kubu-kubu seniman] di Bandung, Yogyakarta dan Jakarta. Berdirinya Sanggar Dewata sebagai sanggar yang bersifat terbuka, universal, dan nasionalis, mengusung konsep lokal universal.
M. Dwi Marianto, kurator cuma dosen ISI Yogyakarta menulis makalah ilmiah, “Dari Kritisisme Persagi sampai Permasalahan HAKI, Nyoman Gunarsa Sepenggal Sejarah Seni Rupa Modern Indonesia”. Dwi berpendapat, pengaruh politik setelah dibersihkannya Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) pada masa Orde Baru, karya-karya abstrak, geometris, muncul kembali mewarnai perwajahan seni rupa modern Indonesia dengan tokoh-tokoh antara lain: Amri Yahya, Bagong Kusudiardjo, Mochtar Apin, Abas Alibasyah, dan Fajar Sidik.
Selain Affandi, Fajar Sidik, maestro sekaligus guru yang memengaruhi perkembangan seni lukis Gunarsa. “Pertengahan 1970-an, Nyoman merupakan pelukis beraliran realis. Namun semenjak 1976 sampai sekarang, dia beralih menjadi gaya ekspresionistik, ”ujar Mikke Susanto. Mikke hadir sebagai ketua panitia sekaligus kurator pameran lukisan dalam rangka pengukuhan DR. HC. Nyoman Gunarsa dari Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta dalam konferensi pers yang digelar Rabu, 11 Juli.
Karya-karya ekspresionistik perupa kelahiran Klungkung 68 silam, lebih dikenal dengan tema-tema lukisan perempuan penari bali dan seremoni upacara adat Bali. Era 1980-an, Gunarsa terkenal sebagai seniman selebritis yang pertama kali mengalami booming lukisan di Yogyakarta. Dia juga terpilih sebagai bintang iklan Mastercard pada 1992, dan kartu kredit pertama yang keluar di Indonesia serba dioperasikan dalam jaringan internasional yang berpusat di New York.
Perupa kondang ini telah mencipta karya-karya artistik dan menjadi koleksi para kolektor dalam dan luar negeri. Dia pun memperjuangkan karya para seniman yang tidak terlindungi HAKI-- guna mencegah peredaran lukisan palsu dan penjiplakan.
Tak pelak, Gunarsa pun bersentuhan dengan HAKI dan proses hukum di Pengadilan Negeri Denpasar pada 2007 lalu. “Karya-karya pak Nyoman pernah dipalsukan oleh Art Gallery di Denpasar, diperjual- belikan. Pemilik galerinya divonis bebas. Prosesnya, kini sampai ke Mahkamah Agung,” ungkap Dwi Marianto yang juga promotor pengukuhan Nyoman Gunarsa sebagai Doktor Honouris Causa.





.jpg)




