home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Pencapaian Maestro Lukis Nyoman Gunarsa
 
> Pencapaian Maestro Lukis Nyoman Gunarsa
Jumat, 13 Juli 2012

Oleh Yuli Yanti
Foto: Koleksi Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta

Pelukis Bali, Nyoman Gunarsa kini bergelar Doktor Honouris Causa (DR.HC) dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Gelar kehormatan Doktor HC Seni Lukis Modern diberikan pada 14 Juli 2012 di kampus ISI Yogyakarta. Pengukuhan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap kerja keras  Nyoman Gunarsa di dunia seni modern dan juga perjuangannya terhadap Hak Atas Kekayaan Inteletual (HAKI) seniman.

Kreativitas berkesenian seniman serba bisa ini tak diragukan. Aktif berpameran sejak 1962 hingga 2011, dan berkontribusi dalam publikasi seni rupa.  Berbagai penghargaan diraihnya baik dari dalam dan luar negeri, diantaranya  penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari mantan Presiden RI, Megawati Soekarno Putri. Kini, Gunarsa sibuk berburu lukisan kuno seniman Bali yang diluar negeri untuk dibelinya, dan disimpan untuk koleksi museumnya di Klungkung Bali.

Nyoman Gunarsa memperkaya sejarah seni rupa modern Indonesia. Dia tercatat sebagai pendiri Sanggar Dewata Indonesia (SDI) pada 1970, kala itu berstatus sebagai dosen Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia  (STSRI) dan Akademi Seni Rupa (ASRI) Yogyakarta. Terakhir menjadi Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.  Sanggar Dewata terbentuk ditengah perkembangan seni rupa modern, dan  riuhnya polemik [kubu-kubu seniman]  di Bandung, Yogyakarta dan Jakarta. Berdirinya Sanggar Dewata sebagai sanggar yang bersifat terbuka, universal, dan nasionalis,  mengusung konsep lokal universal.

M. Dwi Marianto, kurator cuma dosen ISI Yogyakarta menulis makalah ilmiah, “Dari Kritisisme Persagi sampai Permasalahan HAKI, Nyoman Gunarsa Sepenggal Sejarah Seni Rupa Modern Indonesia”. Dwi berpendapat, pengaruh politik setelah dibersihkannya Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) pada masa Orde Baru, karya-karya abstrak, geometris, muncul kembali mewarnai perwajahan seni rupa modern Indonesia dengan tokoh-tokoh antara lain: Amri Yahya, Bagong Kusudiardjo, Mochtar Apin, Abas Alibasyah, dan Fajar Sidik.

Selain Affandi, Fajar Sidik, maestro sekaligus guru yang memengaruhi perkembangan seni lukis Gunarsa.  “Pertengahan 1970-an, Nyoman merupakan pelukis beraliran realis. Namun semenjak 1976 sampai sekarang, dia beralih menjadi gaya ekspresionistik, ”ujar Mikke Susanto. Mikke hadir sebagai ketua panitia sekaligus kurator pameran lukisan dalam rangka pengukuhan DR. HC. Nyoman Gunarsa dari Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta dalam konferensi pers yang digelar Rabu, 11 Juli.

Karya-karya ekspresionistik perupa kelahiran Klungkung 68 silam, lebih dikenal dengan tema-tema lukisan perempuan penari bali dan seremoni upacara adat Bali. Era 1980-an, Gunarsa terkenal sebagai seniman selebritis yang pertama kali mengalami booming lukisan di Yogyakarta. Dia juga terpilih sebagai bintang iklan Mastercard pada 1992, dan kartu kredit pertama yang keluar di Indonesia serba dioperasikan dalam jaringan internasional yang berpusat di New York.

Perupa kondang ini  telah mencipta karya-karya artistik dan menjadi koleksi para kolektor dalam dan luar negeri. Dia pun memperjuangkan karya para seniman yang tidak terlindungi HAKI-- guna mencegah peredaran lukisan palsu dan penjiplakan.

Tak pelak, Gunarsa pun bersentuhan dengan HAKI dan proses hukum di Pengadilan Negeri Denpasar pada 2007 lalu.  “Karya-karya pak Nyoman pernah dipalsukan oleh Art Gallery di Denpasar, diperjual- belikan. Pemilik galerinya divonis bebas. Prosesnya, kini sampai ke Mahkamah Agung,” ungkap Dwi Marianto yang juga promotor pengukuhan Nyoman Gunarsa sebagai Doktor Honouris Causa. 

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Tiga Menguak Punk

Penonton terhibur dan rekat dalam satu ikatan kekerabatan dalam keluarga Endank Soekamti alias Kamtis Family. Punk yang identik dengan sikap anarkis justru dimodifikasi oleh Erix dan kawan-kawannya dalam ikatan keluarga. Penonton pun tertib selama pertunjukkan meski sesekali ada aksi moshing dan body surfing di areal utama panggung @america.


+ lanjut
Nikmati Sejenak Musik Jazz Progresive Perancis

Gaya bermusik yang dibawakan oleh Limousine terbilang unik. Grup yang digawangi oleh Laurent Bardaine (keyboard/saxofon), David Aknin (drum), Maxime Delpiere (gitar), Frederic Soulard (keyboard) itu hanya memainkan instrumen musik tanpa lirik. 


+ lanjut
Seni Sebagai Perlawanan!

Yayak atau biasa disapa “Yaya Kencrit” menampilkan puluhan karya-karya poster yang telah ia produksi selama bertahun-tahun di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran yang dibuka pada Jumat 17 Mei 2013 lalu itu-- mengambil tema “Gambar Sebagai Senjata, Rakyat Berjiwa Merdeka”. 


+ lanjut