Oleh Degina Juvita
Sukses menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta, Tri Wahyudi memamerkan karya-karya lukisnya di Jakarta. 25 lukisan menghias ruang pamer. Kanvas-kanvas Wahyudi begitu riuh oleh boneka, binatang, mainan, dan elemen-elemen interior. Toh, tetap harmonis.
Lelaki kelahiran Surakarta, 11 November 1986, mengaku mengalami proses panjang untuk mencipta karya-karyanya. Gaya melukis Wahyudi sangat khas, karena tak terpaku pada satu gaya. “Kadang-kadang kita itu tidak terbatas, harus membuat gaya seperti apa-- karena kita diposisikan harus bisa menciptakan gaya sendiri. Tapi kalau untuk perbandingan, mungkin bisa disebut naif dekoratif, ”ujar Wahyudi yang akrab disapa Yudi.
Pameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta merupakan keempat kalinya. “The Journey Before Bed Time” tema pameran yang mengisahkan, sebuah pengalaman sebelum waktu tidur. Konsep ini ditemukan Wahyudi setelah berbincang dengan seorang penulis, Stanislaus Yangni (Sius).
“Menurut Sius, seperti waktu-waktu jeda sesaat sebelum kita memasuki tidur. Tidur itu bisa diartikan tidur satu malam atau selamanya. Jadi pengalaman jeda sesaat-- terjadi sebelum waktu tidur itu yang ingin saya tampilkan disini, “ungkap lulusan ISI Surakarta ini.
Wahyudi kerap memakai potret dirinya dalam berkarya. Seperti karya berjudul “Yudi Bernyanyi Sebelum Tidur”, “Yudi And The Bounty Hunter”, serta “Yudi dan Kawan yang Tertidur”. “Kadang-kadang kita berpikir daripada mencari judul yang jauh dari kita, lebih menarik kalau kita menggunakan subyek material diri kita sendiri. Saya pikir, kita lebih berani untuk mempertanggungjawabkan konsepnya, ” imbuhnya.
Secara teknis, Wahyudi senang mengeksploitasi warna merah pada setiap karyanya. Merah merupakan simbol semangat dan keceriaan. Penempatan warna ibarat suatu proses-- dimana dia dapat menciptakan karya yang berkarakter, sesuai warna dan kepribadiannya.
Kisah dari pengalaman sebelum tidur diperoleh dari berbagai referensi. Mulai buku hingga yang dirasai saat berinteraksi pada kolega (seniman). Semua tertuang di atas kanvas dengan apiknya. Bahkan ada karya yang disertai narasi sederhana. Sengaja diciptakan Yudi agar terjalin komunikasi antara karya dan penikmat seni. Pameran dapat disaksikan di Bentara Budaya Jakarta, hingga 27 Juli.









