home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Gerak Lincah di Layar Lebar
 
> Gerak Lincah di Layar Lebar
Sabtu, 21 Juli 2012

Oleh Degina Juvita

Foto: http://www.pina-film.de

Sekelompok penari beraksi di atas panggung. Adegan silih berganti, menampilkan gerak tari nan energik. Lekuk tubuh seolah menyatu jiwa. Mereka menari kontemporer dengan gerak lentur. Penampilan itulah yang ditunjukkan ansembel teater tari Wuppertal, menggambarkan karya-karya besar Pina Bausch.

Pertunjukan tari ditampilkan dalam film tiga dimensi berjudul “Pina”. Wim Wenders, sang sutradara, mengemas beberapa pertunjukan di atas panggung, dan tarian di luar panggung-- dengan komposisi gambar yang memukau.

Film awalnya digarap Wenders bersama Pina Bausch, berkisah tentang Bausch. Namun sang penari sekaligus koreografer, Bausch, meninggal dunia pada 2009. Akhirnya Wenders mengubah konsep menjadi sebuah film untuk Pina Bausch.

Karya-karya besar Pina ditampilkan seperti “The Rite of Spring”. Dibawakan oleh sekelompok penari perempuan dan lelaki, yang menceritakan seks liar diatas lapisan tanah bumi. Kemudian “Café Muller”, dimana penari perempuan melakukan gerakan yang mengejutkan dengan mata tertutup. Sementara penari pria sibuk memindahkan kursi, saat penari perempuan melakukan gerakan-- sembari berjalan.

Wim Wenders mengundang para penonton menyaksikan kekuatan visual. Begitu pun gambar-gambar sensual penuh energi untuk menemukan satu dimensi baru. Memasuki pusat panggung ansembel legendaris ini--  kemudian bersama para penari keluar dari gedung teater ke kota dan alam sekitar Wuppertal – satu kota yang selama 35 tahun telah menjadi tanah air dan pusat kreativitas Pina Bausch.

Film “Pina” telah masuk dalam nominasi di berbagai ajang festival, award, dan berhasil meraih penghargaan “Best Documentary” European Film Awards 2011, dan “Best Documentary” German Film Awards 2011.

Dance, dance, otherwise we are lost”, itulah kutipan Bausch yang mengakhiri sajian film berdurasi 106 menit. Pada Kamis, 19 Juli, warga Jakarta berkesempatan menyaksikan pemutaran film “Pina”, yang diselenggarakan oleh Goethe Institut Jakarta, di bioskop Blitz Megaplex, Grand Indonesia.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Sendratari Nyai Dasima

Komunitas “Kampus Betawi” menampilkan pagelaran kolosal sendratari Nyai Dasima. Kisah ini terkait erat dengan budaya Betawi, dikemas dalam sajian seni kolaborasi yang segar.


+ lanjut
Perpaduan Gerak, Musik dan Video

Kelompok anak muda penari asal Belanda, tampil di panggung Jakarta. Mereka menamakan diri ‘Subways’. Tidak hanya tari, mereka juga didukung oleh musik dan video


+ lanjut
Parodi Subtil Fotografer Filipina

Karya fotografer Filipina bernama MM Yu di ruang mini The Art Dept merepresentasikan masyarakat urban di Filipina. 


+ lanjut