Oleh Degina Juvita
“Harga pertama dimulai dari 20 juta rupiah!” Kemudian peserta lelang mengangkat tangan. Sontak, penawaran naik menjadi Rp. 25 juta, peserta lain menerima angka tersebut. Alhasil, sebuah Art Vespa LX 125 laku dilelang pada angka 25 juta. Vespa ini istimewa. Seorang seniman mengubah tubuh vespa dengan sentuhan artistik. Bodi vespa warna hitam, terlihat berbeda dengan teknik airbrush paint simbol anak panah, pada hampir seluruh permukaan. Karya lukis pada medium vespa itu berjudul “After Wage dan Bayang” dihasilkan oleh Uji ‘Hahan’ Handoko.
Uji Handoko menuliskan, “Saya memvisualisasikan citra seorang seniman muda (emerging artist) yang terjepit buku bertuliskan “how to be a famous artist” dan menggigit luas yang dilatarbelakangi pattern motif anak panah yang mengarah ke atas. Simbol anak panah ini menarasikan tentang sebuah direksi atau arah tujuan. Selain fungsional, kendaraan sebagai alat mobilitas, juga merepresentasikan simbol sebuah proses. Proses dalam mencapai tujuan.”
Vespa lain diberi sentuhan seni oleh Darbotz, laku seharga Rp. 20 juta. Vespa diberi judul “Splatter”. Darbotz mencipta desain Vespa LX 125 yang terinspirasi dari lalu lintas Jakarta yang riuh oleh laju kendaraan hingga debu dan kotorannya. Baginya, polusi lalu lintas Jakarta justru dapat dialihkan pada karya seni yang memiliki estetika.
Selain dua Art Vespa, terdapat tiga Art Vespa Box karya Budi Adi Nugroho, Reza Asung, dan Arkiv Vilmansa, turut dilelang di malam lelang amal untuk Yayasan Seni Rupa Indonesia, dari MRA Group dan Vespa. Lelang ini menjadi rangkaian acara dalam perhelatan CASA by BRAVACASA, yang berlangsung pada 28 Juli, di The Ritz Carlton - Pasific Place.




.jpg)




