home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Tumbuhkan Semangat Keberagaman
 
> Tumbuhkan Semangat Keberagaman
Senin, 06 Agustus 2012

Oleh Degina juvita

Kelompok anak muda Tionghoa “True Spirit” mengemas cerita yang bermuara dari peristiwa akulturasi orang-orang Cina di Indonesia, dalam pagelaran teater bertajuk “Menjemput Impian”.

Alkisah, seorang kakek Akung alias Awei (Cina), menceritakan masa lalunya kepada sang cucu Hao Hao. Perbedaan generasi membuat setiap individu saling berjarak (tidak terhubung). Narasi Awei yang detail soal pengalaman hidup silam-- membuka setiap adegan di atas panggung.

Berawal dari rumah kecil, tinggallah keluarga Tionghoa yang terhimpit polemik ekonomi. Untuk kebutuhan makan, mereka bekerja keras. Hingga akhirnya, mereka putuskan mengarungi lautan, hijrah ke Indonesia. Sesampai di tujuan, masalah tak berhenti. Persoalan ekonomi, sulitnya adaptasi, hingga polemik cinta membuat kehidupan di tanah rantau tidak mudah. Komunitas perantau dan pedagang lokal berdagang di lokasi yang sama, acapkali menimbulkan konflik dan pertengkaran.

Hidup kian sulit. Adakalanya mereka ingin ke negeri Tiongkok. Nilai budaya leluhur menguatkan mereka, bertetap dan semangat menjalani hidup, bagaikan api yang bergelora. Rentetan konflik dihadapi tanpa surut, hingga suatu saat  tempat perantau dan pedagang lokal mengalami kebakaran. Musibah tak terelakkan. Derita itu menyadarkan dua kubu yang seteru, hingga mereka memutuskan berdamai dan saling gotong-royong.

Kisah inspirasif perjuangan nenek moyang zaman silam-- dikemas apik dalam drama, tari, dipadukan multimedia. “Ini sebuah naskah menarik tentang asimilasi orang Cina dengan orang Indonesia. Bagaimana sebetulnya sebuah perjuangan dari kehidupan melarat menjadi kehidupan yang lebih baik, “ujar Yusril, sang sutradara.

Cerita kian menarik dengan gerak tari sebagai ilustrasi adegan. Tari merantau, tari api, tari gotong-royong, hingga tari perjodohan mewarnai panggung. Sang sutradara pun didapuk membaca puisi. Teater “True Spirit” menyuguhkan hiburan yang menarik.

Pentas teater “Menjemput Impian” berlangsung di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, selama tiga hari, 3-5 Agustus. Diselenggarakan oleh Langgeng Pariwara Internasional (LPI), diharapkan dapat menjadi pengingat sejarah lampau, sehingga selalu tercipta multikulturalisme dan pluralisme.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Mengusung Multikulturalisme Di Atas Panggung

Gangsadewa tak menggunakan bahasa agama tertentu. Mereka memilih lagu dengan lirik berbahasa Jawa sebagai penyatuan. Aransemennya pun tak melulu bergaya Jawa, sepanjang lagu mereka memainkan musik dengan nada-nada tarling Sunda, Kalimantan, hingga Sulawesi. 


+ lanjut
Museum Perupa Perempuan Pertama

Di museum perupa perempuan Indonesia yang belum jadi itu terdapat beberapa karya perempuan yang sudah dipajang diantaranya karya Dyan Anggraini, Diah Julianti, Wara Anindiah, dan sejumlah perupa perempuan dari Bandung, Bali dan Jakarta


+ lanjut
Seruan Jazz Untuk Kemajemukan Indonesia

Grup jazz  Barry Likumahuwa Project (BLP), misalnya,  turut berpartisipasi aktif untuk menyebarkan keanekaragaman Tanah Air ke khalayak umum. Salah satu caranya adalah menciptakan sejumlah lagu yang liriknya mengajak generasi muda untuk bersatu padu membangun negeri.


+ lanjut