Oleh Degina juvita
Kelompok anak muda Tionghoa “True Spirit” mengemas cerita yang bermuara dari peristiwa akulturasi orang-orang Cina di Indonesia, dalam pagelaran teater bertajuk “Menjemput Impian”.
Alkisah, seorang kakek Akung alias Awei (Cina), menceritakan masa lalunya kepada sang cucu Hao Hao. Perbedaan generasi membuat setiap individu saling berjarak (tidak terhubung). Narasi Awei yang detail soal pengalaman hidup silam-- membuka setiap adegan di atas panggung.
Berawal dari rumah kecil, tinggallah keluarga Tionghoa yang terhimpit polemik ekonomi. Untuk kebutuhan makan, mereka bekerja keras. Hingga akhirnya, mereka putuskan mengarungi lautan, hijrah ke Indonesia. Sesampai di tujuan, masalah tak berhenti. Persoalan ekonomi, sulitnya adaptasi, hingga polemik cinta membuat kehidupan di tanah rantau tidak mudah. Komunitas perantau dan pedagang lokal berdagang di lokasi yang sama, acapkali menimbulkan konflik dan pertengkaran.
Hidup kian sulit. Adakalanya mereka ingin ke negeri Tiongkok. Nilai budaya leluhur menguatkan mereka, bertetap dan semangat menjalani hidup, bagaikan api yang bergelora. Rentetan konflik dihadapi tanpa surut, hingga suatu saat tempat perantau dan pedagang lokal mengalami kebakaran. Musibah tak terelakkan. Derita itu menyadarkan dua kubu yang seteru, hingga mereka memutuskan berdamai dan saling gotong-royong.
Kisah inspirasif perjuangan nenek moyang zaman silam-- dikemas apik dalam drama, tari, dipadukan multimedia. “Ini sebuah naskah menarik tentang asimilasi orang Cina dengan orang Indonesia. Bagaimana sebetulnya sebuah perjuangan dari kehidupan melarat menjadi kehidupan yang lebih baik, “ujar Yusril, sang sutradara.
Cerita kian menarik dengan gerak tari sebagai ilustrasi adegan. Tari merantau, tari api, tari gotong-royong, hingga tari perjodohan mewarnai panggung. Sang sutradara pun didapuk membaca puisi. Teater “True Spirit” menyuguhkan hiburan yang menarik.
Pentas teater “Menjemput Impian” berlangsung di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, selama tiga hari, 3-5 Agustus. Diselenggarakan oleh Langgeng Pariwara Internasional (LPI), diharapkan dapat menjadi pengingat sejarah lampau, sehingga selalu tercipta multikulturalisme dan pluralisme.



.jpg)






