home | · | aktual | · | seni & kriya | · | 50 Tahun The Rolling Stones
 
> 50 Tahun The Rolling Stones
Rabu, 08 Agustus 2012

Oleh Farida Indriastuti

Foto: somersethouse.org.uk

Apa yang dilamunkan Keith Richard dengan segelas teh? Sembari menggigit ujung jarinya. Untung kuku jarinya tak tandas oleh gigi tajamnya. Mirrorpix  jeli memotret pemetik gitar rock The Rolling Stones pada September 1964 di England, dalam suasana santai dan tak terduga.

Karir The Rolling Stones diawali di Club Marquee, London's Oxford Street, pada 12 Juli 1962. Band asal Inggris menjadi fenomenal 50 tahun kemudian, dan untuk merayakan tonggak sejarah ini-- Somerset House menyajikan pameran fotografi The Rolling Stones.

Somerset House, ruang publik yang memamerkan beragam perhelatan seni; film, fesyen, musik, visual art, sastra, arsitektur hingga fotografi, menghadirkan dokumentasi perjalanan The Rolling Stones setengah abad terakhir dan melihat kembali karir musik yang luar biasa.

Pameran berlangsung sejak 13 Juli dan berakhir pada 27 Agustus, di area East Wing Galleries, Somerset House, Strand, London WC2R 1LA. Terbuka untuk umum dan gratis! Peminat dapat pula mengunjungi www.somersethouse.org.uk.

Berbagai bidikan kamera Mirrorpix, Tom Buist, Denis O’Regan, Paul Natkin, dan Victor Crawshaw, sangat bersejarah di kemudian hari. Tampak ekspresi Charlie dan Keith yang dinamik di panggung, dibidik oleh Denis O’Regan saat di Eropa 1982.

Suasana santai tampaknya memiliki ruang istimewa di mata fotografer amatir Mirrorpix. Ia jeli membidik Mick Jagger saat santai dengan segelas teh-- sebatang rokok menyelip di ruas jarinya. Foto didominasi cetak hitam-putih yang terkesan artistik dari sisi fotografi. Meski beberapa foto dicetak berwarna.

Menampilkan materi fotografi langka dan istimewa-- terdapat 70 frame foto dari fotografi reportase, konser hingga sesi pemotretan di studio. Pengunjung pun dapat membeli souvenir edisi khusus dengan logo yang diperbarui oleh Shepard Fairey.

Pameran “The Rolling Stones 50 Year” juga bertepatan rilis buku berjudul sama, dicetak terbatas [limited edition] dalam hardcover book yang diterbitkan oleh Thames & Hudson. Tak mudah menganalogikan band rock Inggris The Rolling Stones. Dengarkan saja lirik lagunya yang menggoda, “The wind blows rain into my face. The sun glows at the end of the highway. Child of the moon, rub your rainy eyes. Oh, child of the moon. Give me a wide-awake crescent-shaped smile...”

(Sumber: Somersethouse, therollingstones) 

 

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Mengusung Multikulturalisme Di Atas Panggung

Gangsadewa tak menggunakan bahasa agama tertentu. Mereka memilih lagu dengan lirik berbahasa Jawa sebagai penyatuan. Aransemennya pun tak melulu bergaya Jawa, sepanjang lagu mereka memainkan musik dengan nada-nada tarling Sunda, Kalimantan, hingga Sulawesi. 


+ lanjut
Museum Perupa Perempuan Pertama

Di museum perupa perempuan Indonesia yang belum jadi itu terdapat beberapa karya perempuan yang sudah dipajang diantaranya karya Dyan Anggraini, Diah Julianti, Wara Anindiah, dan sejumlah perupa perempuan dari Bandung, Bali dan Jakarta


+ lanjut
Seruan Jazz Untuk Kemajemukan Indonesia

Grup jazz  Barry Likumahuwa Project (BLP), misalnya,  turut berpartisipasi aktif untuk menyebarkan keanekaragaman Tanah Air ke khalayak umum. Salah satu caranya adalah menciptakan sejumlah lagu yang liriknya mengajak generasi muda untuk bersatu padu membangun negeri.


+ lanjut