Oleh Degina Juvita
Dua foto jurnalis, Saptono Soemardjo dan Prasetyo Utomo menampilkan 64 frame foto “Makkah”. Foto dibidik pada tahun berbeda, dokumentasi mereka memiliki keragaman-- saling berpadu dalam pameran bertajuk “Makkah Photography Diary”.
Selain disiapkan untuk materi pameran, foto-foto Makkah dirangkum dalam buku berjudul sama. “Jadi ini banyak idenya. Materi dari kita, idenya dari Oscar Matulloh. Kita ngobrol-ngobrol, gambarnya ketemu dan ternyata materinya pas, sehingga kami satukan menjadi pameran dan buku, ”ujar Saptono saat pembukaan pameran.
62 frame foto karya dua fotografer dipamerkan. 144 foto lain dimuat dalam buku. Dokumentasi fotografi Makkah ini mengisahkan proses ibadah Haji. “Sebenarnya cuma catatan perjalanan kami ketika haji. Yang kita sampaikan adalah proses haji sebenarnya mudah, dan kita menggambarkan kehidupan disana, sehingga orang bisa melihat-- ternyata tidak seperti dibayangkan.”
Pengalaman mengesankan Prasetyo-- saat membidik kawasan Masjidil Haram, Ka’bah dan sekitarnya. Ia dilarang menggunakan kamera DSLR profesional, harus dengan kamera saku atau pocket. “Banyak sekali penjaga, saya sembunyi-sembunyi untuk dapat momen itu, ”kenang Prasetyo. Sedang Saptono harus menunggu jamaah merapikan syaf siap shalat, justru momen itu yang mengesankannya.
Buku Makkah Photography Diary merupakan trilogi dari buku “Makkah Final Destination” dan “The Other Side of Makkah”. Buku pertama bercerita ritual Haji, dan kedua mengenai sisi lain kehidupan masyarakat Makkah. Buku ketiga dikemas dengan kombinasi dua cerita; ritual Haji dan kehidupan masyarakatnya.
Persiapan buku ketiga sekitar tiga bulan hingga proses cetak. Dokumentasi Saptono dihasilkan pada 2010, sedang Prasetyo pada 2011. Pameran dan peluncuran buku diadakan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta, pada 3 Agustus lalu. Pameran “Makkah” masih berlangsung hingga 10 September.











