home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Mengupas Dilema Perempuan
 
> Mengupas Dilema Perempuan
Rabu, 15 Agustus 2012

Oleh Degina Juvita

Juwairiyah dan Istifaroh, dua perempuan yang tinggal di desa dengan kultur agama dan adat Madura yang sangat konservatif. Belenggu kemiskinan dan tekanan adat memaksa perempuan-perempuan di desa itu untuk segera menikah. Demi memenuhi kebutuhan hidup, kedua perempuan itu bersedia menikah siri--  tanpa perlu mengenal lebih dulu calon suami mereka. Itulah segelintir kisah pilu yang diangkat Rosana Yuditia Ripi dalam film berjudul “Di Bawah Tangan”. Film ini diproduksi pada 2010, berdurasi 16 menit.

Arthouse Cinema memutar film-film pendek New Indonesian Sinema. Tiga sutradara perempuan mewarnai karya visual di Goethe Institute Jakarta, (10/8). Kisah lain menceritakan tentang Sara yang berjuang untuk menurunkan berat badan. Persoalan satu ini sering dihadapi perempuan. Sara ingin memiliki postur tubuh ideal, membuatnya diet ketat. Ia mengatur pola makan hingga berolah raga. Meski badan gemuk, Sara berhasil menggaet hati seorang lelaki yang dikenalnya melalui jejaring sosial di internet. Awalnya, ia menyembunyikan berat badan sesungguhnya kepada sang pacar-- lambat laun Sara berani jujur dan bertemu dengan pacarnya.

Film ini diakui sutradara Kiki Febriyanti, sebagai video diary yang mengangkat kehidupan sehari-hari teman kos di masa kuliah. Ia menyoal polemik berat badan dalam fil-- karena itulah kenyataan yang terjadi di sekitarnya. “Film ini aku dedikasikan untuk mereka. Setelah lulus bisa nonton film ini, dan ingat ngapain sih aku harus usaha keras kaya gitu. Secara umum ya sama, supaya perempuan-perempuan lain tidak usah sampai segitunya. Bangga saja dengan diri sendiri, ”kata Kiki.

Satu lagi kisah menggugah, dihadirkan oleh sutradara Chairun Nisa yang akrab disapa Ilun. Filmnya yang berjudul “Payung Hitam”, mengangkat perjuangan para pencari keadilan untuk hak-hak asasi manusia.  Film dokumenter ini mengulas persoalan miris yang dihadapi warga Rumpin, Bogor, Jawa Barat. Mereka berbondong-bondong mendatangi gedung DPR/MPR RI menuntut keadilan akan tanah mereka yang tergusur pihak Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dengan alasan dijadikan water training. Pada kenyataannya, ladang dan sawah mereka rusak dan kekeringan disebabkan proyek sepihak itu. Selain itu menyoal pula, kisah seorang perempuan bernama Sumarsih, yang memperjuangkan kematian anaknya, Wawan, mahasiswa Atmajaya yang menjadi korban penembakan tragedi Semanggi I.


 

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Persahabatan Rumah di Seribu Ombak

Film Rumah di Seribu Ombak diangkat dari novel berjudul sama karya Erwin Arnada. Film produksi Tabia Film dan Winmark Pictures ini dikemas lewat penggambaran kecantikan alam pulau Dewata dan alur cerita menyentuh.


+ lanjut
Melacak Memori Visual 'Mocca' Dalam Film

Untuk mengenang ‘perjuangan’ sekaligus melepas rindu kepada band Mocca, Good News Film mempersembahkan film dokumenter berjudul “Life Keeps on Turning”.


+ lanjut
Semangat Sutradara Muda

Film pendek kerap menjadi media untuk berkarya. Beberapa sutradara muda dari berbagai kota berkarya melalui film pendek. 


+ lanjut