Oleh Degina Juvita
Juwairiyah dan Istifaroh, dua perempuan yang tinggal di desa dengan kultur agama dan adat Madura yang sangat konservatif. Belenggu kemiskinan dan tekanan adat memaksa perempuan-perempuan di desa itu untuk segera menikah. Demi memenuhi kebutuhan hidup, kedua perempuan itu bersedia menikah siri-- tanpa perlu mengenal lebih dulu calon suami mereka. Itulah segelintir kisah pilu yang diangkat Rosana Yuditia Ripi dalam film berjudul “Di Bawah Tangan”. Film ini diproduksi pada 2010, berdurasi 16 menit.
Arthouse Cinema memutar film-film pendek New Indonesian Sinema. Tiga sutradara perempuan mewarnai karya visual di Goethe Institute Jakarta, (10/8). Kisah lain menceritakan tentang Sara yang berjuang untuk menurunkan berat badan. Persoalan satu ini sering dihadapi perempuan. Sara ingin memiliki postur tubuh ideal, membuatnya diet ketat. Ia mengatur pola makan hingga berolah raga. Meski badan gemuk, Sara berhasil menggaet hati seorang lelaki yang dikenalnya melalui jejaring sosial di internet. Awalnya, ia menyembunyikan berat badan sesungguhnya kepada sang pacar-- lambat laun Sara berani jujur dan bertemu dengan pacarnya.
Film ini diakui sutradara Kiki Febriyanti, sebagai video diary yang mengangkat kehidupan sehari-hari teman kos di masa kuliah. Ia menyoal polemik berat badan dalam fil-- karena itulah kenyataan yang terjadi di sekitarnya. “Film ini aku dedikasikan untuk mereka. Setelah lulus bisa nonton film ini, dan ingat ngapain sih aku harus usaha keras kaya gitu. Secara umum ya sama, supaya perempuan-perempuan lain tidak usah sampai segitunya. Bangga saja dengan diri sendiri, ”kata Kiki.
Satu lagi kisah menggugah, dihadirkan oleh sutradara Chairun Nisa yang akrab disapa Ilun. Filmnya yang berjudul “Payung Hitam”, mengangkat perjuangan para pencari keadilan untuk hak-hak asasi manusia. Film dokumenter ini mengulas persoalan miris yang dihadapi warga Rumpin, Bogor, Jawa Barat. Mereka berbondong-bondong mendatangi gedung DPR/MPR RI menuntut keadilan akan tanah mereka yang tergusur pihak Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dengan alasan dijadikan water training. Pada kenyataannya, ladang dan sawah mereka rusak dan kekeringan disebabkan proyek sepihak itu. Selain itu menyoal pula, kisah seorang perempuan bernama Sumarsih, yang memperjuangkan kematian anaknya, Wawan, mahasiswa Atmajaya yang menjadi korban penembakan tragedi Semanggi I.









