home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Fantasi 3 Dimensi Sinta Tantra
 
> Fantasi 3 Dimensi Sinta Tantra
Selasa, 29 Januari 2013

Oleh: Ulung Putri

Deretan seni rupa kontemporer berukuran besar, berwarna cerah dengan motif bergaris karya seniman berdarah Bali, Sinta Tantra, seakan meneror imajinasi pengunjung yang melewatinya di sebuah lobi gedung perkantoran di London, Inggris. Bentuk tak terduga dan penuh kejutan ini tersaji lewat proses interaksi pelukis Sinta Tantra (30) dan perupa atau sculptor asal Inggris Nick Hornby (33). Pameran seni rupa kontemporer ‘Nick Hornby and Sinta Tantra: Sculpture at Work’ yang digelar pada 14 Januari hingga 23 Maret 2013 di London, memukau publik dan penikmat seni di Inggris lewat rancangan tiga dimensi yang tercipta dengan memanfaatkan teknologi digital masa kini. “Kerja sama ini dimulai dengan menuangkan ide dan rancangan warna pilihan saya kedalam karya seni Nick secara digital, dengan komputer, projector, dan bahkan laser beam yang ditembakkan ke arah karya seni secara digital,” ujar Sinta. Ini dilakukan untuk menentukan warna dan motif lukisan yang cocok untuk setiap bentuk karya seni Nick.

Hasilnya, warna berani dan corak geometris yang menjadi ciri khas Sinta membalut rapi rupa instalasi abstrak buatan Nick. Menurut Nick, ia mengagumi lukisan dan warna karya Sinta Tantra yang bernuansa indah dan melankolis, namun tetap terkesan powerful atau kuat. “Saya iri pada kemampuan Sinta menciptakan karya seni dengan skala yang besar dan penuh warna menakjubkan,” ujar Nick. Karena itu, seniman yang sudah sering mengadakan pameran di Eropa, Amerika Serikat, dan India ini merasa beruntung bisa bekerja sama dengan Sinta. “Dengan bekerja sama, seniman bisa saling menghargai kemampuan karya seni mereka, sekaligus bekerja lebih fleksibel karena harus menjaga ego masing-masing agar tidak ada yang mendominasi,” tambah Nick.

Kolaborasi antara pelukis dan perupa/sculptor bisa dibilang jarang, karena kedua jenis pekerjaan seni ini memiliki prinsip kerja yang berbeda. Tak heran, kedua seniman pun kadang terlibat argumen dan debat dalam proses kreatif untuk mencipta karya seni. “Bagian terberat adalah bagaimana menerapkan sistem kerja antara saya dan Nick, karena kami belum pernah bekerja sama sebelumnya. Kemudian negosiasi berulang kali untuk mencari warna yang cocok,” ujar Sinta. Hal senada juga diungkapkan oleh Nick, yang menganggap bahwa kolaborasi kali ini adalah bentuk eksperimen atau percobaan bagi kedua seniman untuk mencari tahu sejauh mana keduanya bisa beradaptasi dalam lingkungan kerja yang baru demi menghasilkan suatu karya seni yang segar dan inspiratif.

Di alam pikiran Nick dan Sinta, karya seni akan terus berevolusi, mencari bentuk dan dimensi baru. Karena itu, dalam kolaborasi ini, karya seni Nick seakan mengalami proses daur ulang atau recycle lewat intervensi pewarnaan Sinta. Sebelumnya, Nick memadukan beragam bentuk karya seni dengan komputer, lalu menciptakan bentuk tiga dimensi (3D) lewat proses robotic sculpting menggunakan bahan marble dan resin, dan menamai karyanya ‘The Horizon Comes’. Karya ini mengandung unsur gabungan karya seni maestro perupa/sculptor dunia lainnya, seperti Alexander Calder’s ‘Flamingo’, Elisabeth Frink’s ‘Horse and Rider’ dan Constantine Brancusi’s ‘The Cock’. Upaya daur ulang tampak lewat aplikasi motif dan warna Sinta, yang disemprotkan disekujur rupa karya seni Nick yang sebelumnya identik dengan warna putih polos. Hasilnya, karya seni ini seakan bertransformasi menjadi siluet abstrak berwarna yang imajinatif, mengajak publik untuk membayangkan rupa awal sekaligus menebak bentuk baru sang karya yang mendapat nama baru ‘The Horizon Comes in Chinese Blue, Hague Blue, Archive, Railings, Conforth, Bubblicious and Firefly red’.

Karya seni lainnya ‘The Broken Man’ yang menyerupai bentukan seseorang yang bediri bercampur dengan bentuk obor yang menjulang ke langit-langit, terlahir kembali oleh permainan warna Sinta dan judul baru ‘The Broken Man in Conforth, Hague Blue, Arsenic, Lush Pink, Incarnadine and Downpipe’. Pemberian nama baru yang berasal dari nama industrial jenis cat warna yang digunakan Sinta, menunjukan keseriusan Sinta dalam menciptakan warna warna andalannya. Tak jarang pengaruh tanah kelahiran orang tuanya, Bali, menginspirasi Sinta ketika memilih warna , seperti pada karyanya instalasi berjudul ‘Le Bonheur II’. Lukisan tiga dimensi yang dibuat dengan material vinyl ini mendominasi salah satu sudut jendela gedung One Canada Square, memancing perhatian setiap pejalan kaki yang melewatinya.

Tak hanya karya seni dari material marble dan resin, pameran yang dibuka untuk umum ini juga memajang karya seni dari kayu yang diwarnai, yang merupakan kerja sama kedua seniman dengan arsitek asal Indonesia Patrick Tantra. Karya seni ‘Untitled Proposals’, “jika dilihat dari salah satu sudut, karya seni ini berbentuk persegi panjang. Jika dilihat dari sudut lain, bentuknya bisa berubah. Seakan ini adalah rangka, fondasi awal lahirnya sebuah karya seni,” ujar Patrick.

Sinta Tantra dan Nick Hornby bertemu pada tahun 1999 di Slade School of Fine Art, University College of Art, London. Bagi Sinta yang lahir di New York, Amerika Serikat, pameran kali ini adalah kedua kalinya Sinta berhasil menembus ruang publik di kawasan bisnis terkemuka Canary Wharf di London, Inggris, setelah sebelumnya memberi sentuhan karya mural pada jembatan sepanjang 150 meter yang merupakan icon Canary Wharf. Selain menembus pasar seni rupa Inggris, Sinta juga pernah menggelar  karyanya di New York, Paris, dan Den Haag.

Artikel ditulis oleh Ulung Putri, jurnalis lepas dan mahasiswi pascasarjana di Brunel University, London, Inggris

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Penari Belanda Akan Pentas di Jakarta

FADO adalah musik tradisional Portugis. Inti musik Fado mengisahkan tentang kehidupan, harapan dan saling mengasihi antar sesama. FADO adalah mitra kerja Internationaal Danstheater bersama Companhia Portuguesa de Bailado Contemporâneo (CPBC) Lisbon, Portugal.


+ lanjut
Yuk, Nonton 71 Film Eropa

Lokasi pelaksanaan Europe on Screen edisi tahun ini tersebar di Jakarta, Bandung, Denpasar, Makassar, Medan, Surabaya  Yogyakarta, Aceh, Denpasar, dan Padang. Festival film ini juga menggandeng lembaga kebudayaan dan komunitas film. Sebut saja, Institut Français-Indonesia, Komunitas Tikar Pandan, Padang Kreatif dan Rumah Ide Makassar.


+ lanjut
Apresiasi Tak Ternilai Guru Seni Indonesia

Lukisan mural dipilih sebagai bagian dari tradisi seni rupa di Yogyakarta, kota tempat Wadino bernaung. Pria dalam lukisan itu membuat gambar bentuk tubuh kuda yang sedang berlari dengan sepenggal kalimat unik yang berbunyi, menggambar itu mudah hidup dari menggambar yang susah. 


+ lanjut