home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Koleksi Seni Rupa Istana
 
> Koleksi Seni Rupa Istana
Jumat, 01 Maret 2013

Oleh Yuli Yanti

Aset Indonesia dihitung tak hanya berasal dari sumber alam yang berlimpah dan peninggalan  benda-benda bersejarah tetapi juga berasal dari ribuan koleksi benda seni rupa yang dimiliki oleh Istana Negara Republik Indonesia. Koleksi itu kini tersebar di Istana Cipanas, Istana  Bogor, Gedung Agung Yogyakarta dan Istana Tampaksiring. Jika dihitung 1600 item benda seni rupa itu bisa mencapai triliunan rupiah. Belum lagi, benda-benda seni rupa yang ada di beberapa kementerian negara, seperti kementerian kebudayaan dan luar negeri. 

Hampir semua koleksi seni yang dimiliki oleh istana sudah berusia tua dan punya nilai sejarah karena dibuat oleh maestro Indonesia dan luar negeri. Antara lain Raden Saleh, Basuki Abdullah, Affandi, Trubus, Dullah, Lee Man Fong, serta  lukisan dari pelukis luar negeri ternama. Tentunya, semakin tinggi nilai sejarah dan karyanya. Semakin tinggi pula harganya. 

Mikke Susanto Konsultan Kurator diminta mengelola dan menilai koleksi benda-benda berupa patung, lukisan dan benda-benda lainnya  bersama  Agus Dermawan, Timbul Rahardjo, dan T. Watie Moerany. Penilaian tersebut berdasarkan sembilan indikator yaitu  sejarah prestasi, ide tema, kondisi karya, media dan bahan, ukuran, teknik dan alat, sejarah karya, sejarah akuisisi dan publikasi.

Sejak  tahun 2009, Mikke bekerja sebagai konsultan kurator istana. Disana dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta itu bertugas mengelola koleksi benda-benda seni yang ada di dalam istana. “Tahun 2009 secara resmi direkrut oleh bagian pengelola istana saya  diminta untuk masuk dengan status konsultan kuratorial. Melihat sejauh mana koleksi itu akan diberlakukan di istana,”ujar Mikke dalam diskusi bertajuk Seni Rupa dalam Istana, pengalaman mengelola koleksi negara di Indonesian Visual Art Archive (IVAA) Yogyakarta, 28 Febuari 2013.

Mengapa koleksi itu kini menyebar ke empat istana diluar Jakarta? Kerena museum tempat koleksi benda-benda ini yang  berada di kompleks istana kepresidenan dibongkar  pada tahun 2007  digunakan sebagai  ruangan staf kepresidenan. Sehingga 1.600 item dari 8.000 koleksi itu harus dikeluarkan. Koleksi karya seni rupa  itu dimulai sejak Presiden pertama Indonesia, Bung Karno .

Tugas Mikke adalah menginventarisasinya sesuai dengan sejarah karyanya. “Di Bogor koleksi lukisan lebih banyak bertemakan romantisme Soekarno. Di Yogyakarta, bertemakan nasionalisme, di Bali temanya lukisan lokal Bali dan di Cipanas bertemakan Memorabilia Soekarno,”ujar Mikke.

Presiden Soekarno mulai mengoleksi lukisan pada tahun 1937, ketika diasingkan di Bengkulu.  Pada masa penjajahan Jepang, Soekarno membawa lukisan-lukisannyanya ke Pegangsaan Timur. Lukisan-lukisan tersebut, kemudian disimpan di istana dan pelukis Dullah sebagai kurator dan pengelolanya hingga Soekarno wafat.  “Tahun 1970 Soekarno meninggal, menurut Guruh (anak Soekarno), Soekarno melarang keluarganya mengambil koleksinya,” lanjut Mikke.

Terhitung jumlah koleksi seni yang diwariskan oleh Soekarno berjumlah  2300 karya.  Pada masa Orde Baru, jumlahnya bertambah tapi tidak signifikan hanya 700 koleksi.  Kini aset istana  tersebut mulai kembali dikelola. Sayangnya jumlah koleksi dengan biaya perawatan seperti merestorasi lukisan atau benda-benda yang mulai rusak tidak sebanding, minim. Persoalan mengenai pengelolaan benda-benda koleksi seni pun  belum diatur dalam Undang-Undang. “Belum adanya aturan undang-undang mengenai pengelolaan dan pengamanan koleksi.  Kurangnya SDM seni serta  kurangnya kesadaran estetik dari staf presiden hingga kepala negara,”ujar  Mikke.

 

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Goresan Nasikin Tentang Fragmen Kehidupan

Sebagian besar merupakan karya-karya lawas yang dibuat di antara tahun 1997 hingga 2011. Meskipun begitu, menikmati karya-karyanya membuat pengunjung diajak membaca jejak hidup dan karir pelukis kelahiran Kudus itu. Contohnya, bila kita memerhatikan karya berjudul Kuda Sekawan yang dibuat di tahun 1998, teknik goresannya sangat berbeda dengan karya yang dibuat pada era setelah 2000.

 


+ lanjut
Kisah Klasik di Balik Gerakan Tangan

Bayangan tangan tersebut mengisahkan sebuah cerita tentang seekor anak beruang yang mengalami berbagai pengalaman dan petualangan sepanjang tahun, melewati musim semi hingga musim dingin. Bagi anak-anak yang menonton suguhan itu bukan saja jadi hiburan ringan namun mampu membantu mengidentifikasi diri mereka selaras dengan berbagai karakter dalam kisah ini layaknya mendengar dongeng. Sedangkan bagi orang dewasa, pertunjukkan ini mampu mengenang kembali masa kanak-kanak mereka.


+ lanjut
Perjalanan Spritual Maestro Ketut Budiana

Pada perayaan ke 64 tahun kelahirannya, Ketut Budiana mengadakan kembali pameran tunggal di tiga Bentara Budaya sekaligus. Ia tetap mengusung kreativitas yang khas, original, dan relevan dengan situasi kekinian. Bentara Budaya Jakarta menjadi salah satu destinasinya setelah sebelumnya ia membuka pameran di tanah kelahirannya pada awal Oktober lalu.


+ lanjut