home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Cara Seniman Perangi Korupsi
 
> Cara Seniman Perangi Korupsi
Rabu, 20 Maret 2013

Oleh Vicharius Dian Jiwa

Petruk, Gareng, dan Bagong tampak begitu ceria. Mereka bergembira karena berhasil mendapatkan buruan besar yang selama ini menjadi incaran. Buruan itu begitu berharga karena selama ini sering mengganggu ketentraman masyarakat dengan perilaku yang amat buruk. Dipimpin oleh sang mentor, Semar, mereka bertiga bahu membahu menggotong seekor celeng. Entah bagaimana nasib si celeng selanjutnya, mati dipukuli atau dibakar hidup-hidup, yang pasti para punakawan itu rasanya tak ingin melepaskan celeng begitu saja. Itulah gambaran pelukis Arisbudiono Sadjad ketika melukiskan seorang koruptor yang disimbolkan melalui celeng yang digotong beramai-ramai menuju tempat peradilan. Arisbudiono menamai lukisan itu “Punakawan Menggotong”, ia buat dengan cat acrylic di atas kanvas berukuran 145 cm x 145 cm. Di satu sudut lukisan itu, ia melukiskan bayangan siluet sang koruptor yang diarak oleh massa dengan latarbelakang gedung-gedung bertingkat.

Korupsi harus dilawan dan koruptor harus diberantas. Begitulah tekad Arisbudiono, pelukis kelahiran Brebes yang mengkampanyekan perang melawan korupsi melalui seni lukis. Kamis, 14 Maret lalu, ia resmi membuka pameran tunggalnya bertajuk “Perang Suci Melawan Korupsi” di galeri Bentara Budaya Jakarta. Di pameran yang terbuka untuk umum hingga 23 Maret mendatang itu, lebih dari dua puluh karya terpajang dengan tema utama, Perlawanan Terhadap Korupsi. Arisbudiono menggunakan idiom wayang, celeng, dan mitologi klasik sebagai media propaganda kepada masyarakat. Celeng banyak dianalogikan sebagai koruptor, musuh bersama yang harus dibasmi. Pertarungan melawan celeng yang serakah pun hadir dengan berbagai versi.

Seperti pada karya “Laskar Petruk Melawan Laskar Bhuto” misalnya. Kita akan melihat puluhan kembaran Petruk bersenjatakan tombak berhadapan dengan pasukan Bhuto yang tak kalah seram dengan wajah merahnya. Masih serupa dengan karya itu, kini Arisbudiono lebih lugas mengambil figur pasukan celeng yang siap bertempur dengan para ksatria dalam lukisannya berjudul “Ampyak Perang Rampogan: Ksatrian Melawan  Celeng”. Koruptor lagi-lagi diibaratkan sebagai pihak yang kalah. Karya “Wayang Dewi Themis-Dewi Keadilan” mampu mewakili para jagoan bangsa yang dengan beraninya melawan tindakan korupsi yang makin merajela.

Tak hanya pertempuran melawan celeng yang dieksplorasi oleh Arisbudiono. Ia juga menggambarkan keserakahan koruptor melalui beberapa karya seperti “Omnivora” dan “Corruptor Family Gathering” yang melukiskan bagaimana koruptor begitu tenang dan gembira di atas penderitaan rakyat yang haknya mereka rebut. Sedangkan pada judul pertama, keserakahan koruptor patut disamakan dengan seekor celeng yang begitu rakusnya memakan apapun yang mereka suka tanpa terkendali.

Oleh kritikus seni rupa, Suwarno Wisetrotomo, karya Arisbudiono menyembunyikan catatan dan riwayat muram. Simbol bhuto, cakil, dan babi yang terlukis dalam berbagai ukuran mewakili sifat kerakusan manusia yang dihadapkan pada Hanoman, Bhatara Guru, Bima, dan para ksatria yang mewakili aparat pembasmi keserakahan. “Pameran ini bisa pula ditanggapi sebagai semacam pamflet seruan untuk kita semua bersama-sama menghentikan para omnivore yang destruktif terhadap kemanusiaan dan kehidupan luas.”

 

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Interpretasi Bekerja dan Bekarya dalam Seni Patung

Lain lagi dengan karya milik Budi Kustarto berjudul Sehelai Daun Jatuh dari Rantingnya. Patung itu menggambarkan tiga sosok figur manusia yang terbuat dari fiberglass. Budi menggabungkannya dengan rating dan daun yang membentuk kata 'ART'. Menurutnya, seni adalah sesuatu yang hidup sejalan dengan yang kodrati dan melekat pada manusia dan hidup bermasyarakat.


+ lanjut
Menelusuri Jejak Cerita Panji

Versi lainnya adalah Panji Anggreni (Palembang). Meskipun banyak versi namun terdapat tema yang sama dan menjadi ciri utama dari berbagai tuturan kisah Panji. Tema itu tentang cerita asmara antara putra mahkota kerajaan Janggala (Kahuripan) dengan putri kerajaan Panjalu (Kadiri).


+ lanjut
Sounds Fair Hadirkan Musisi Lokal, Kualitas Internasional

Genre musik yang beragam ini akan memanjakan telinga penonton. Musik-musik semacam blues, brit pop, RnB soul, rap, electronik, pop rock, cult rock, punk, hard rock, dan genre musik lainnya akan tumplek blek di festival tersebut. Jadi, musisi yang tampil di edisi perdana Sounds Fair ini pun bukan kacangan.


+ lanjut