home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Relung Jiwa Seniman Lukis Abstrak
 
> Relung Jiwa Seniman Lukis Abstrak
Rabu, 30 November 2011

Oleh Degina Juvita

 
Seni lukis abstrak dalam perkembangan sejarah seni rupa barat muncul pada abad 19. Romantisisme, impresionisme dan ekspresionisme adalah tiga aliran seni yang melahirkan seni abstrak. Memasuki penghujung abad 19, para pelukis barat mulai mencari alternatif inspirasi-- selain dari pengaruh kultur Eropa. 
 
Seiring berjalannya waktu, memasuki abad 20, kelompok pelukis barat mulai menganut gaya Fauvisme. Karakteristik gayanya lebih kepada dekoratif, penuh warna, spontan dan intuitif. Henri Matisse, pelukis asal Perancis melalui karya-karya lukis seperti French Window at Collioure (1914), View of Notre-Dame, (1914), dan The Yellow Curtain (1915), menggunakan gaya mendekati aliran abstrak murni yang terpengaruh gaya Wassily Kandinsky. 
 
Wassily Kandinsky secara umum dianggap sebagai seniman modern pertama yang melukis abstrak dengan kandungan objek karya yang tidak dikenali, pada 1910-1911. Munculnya kelompok de Stijl di Belanda dan sekelompok Dada di Zurich, mengembangkan lebih lanjut seni abstrak.
 
Melirik sejarah perkembangan seni lukis abstrak yang didominasi oleh para seniman lukis barat, Indonesia juga mempunyai kelompok pelukis abstrak bernama Soulscape. Kelompok ini terdiri dari tujuh orang pelukis tua dan muda asal kota Yogyakarta, yaitu AT Sitompul, Dedy Sufriadi, Netok Sawiji Rusnoto Susanto, Nunung WS, Sulebar M Soekarman, Utoyo Hadi dan Yusron Mudhakir. 
 
Kelompok Soulscape telah beberapa kali melakukan pameran lukisan abstrak di berbagai kota di Indonesia. Kali ini pameran bertajuk “Abstract Today : Soulscape-The Treasure of Spiritual in Art” digelar di Galeri Nasional, Jakarta. Pameran lukisan abstrak akan berlangsung 26 November hingga 6 Desember. Pameran ini menampilkan karya Soulscape dan pelukis abstrak dalam dan luar negeri.
 
Utoyo Hadi, pelukis kelahiran Kudus merupakan salah satu anggota Soulscape, menampilkan dua karya berjudul “Kalatida 1” dan “Kalatida 2”.  Tema itu diambil dari karya sastra Jawa karangan Raden Ngabehi Ronggo Warsito berjudul Serat Kalatidha atau Kalatidha. Serat itu menceritakan, masa saat ia hidup adalah zaman gila. “Saya mengekspresikan dalam lukisan yang diwakili oleh warna dan unsur simbol, berisi metafora kehidupan,” ungkap Utoyo.
 
Sedangkan seniman Soedarto, juga berasal dari Kudus-- menggunakan pengalamannya selama bekerja di perusahaan minyak sebagai inspirasi karya dan diberinya judul Ring of Fire. “Selama 26 tahun bekerja dengan orang-orang yang menekuni geologi, membuat saya lebih menaruh perhatian terhadap keberadaan Indonesia, yang menjadi bagian dari lingkaran api yang berbahaya. Dari sinilah inspirasi lukisan saya berasal,” ujar lelaki yang lahir di bulan Maret ini.
 
Pameran “Abstract Today: Soulscape-The Treasure of Spiritual in Art” mengembang misi kemanusiaan dan nilai-nilainya dengan cara berbeda, yakni mengekspresikan melalui media kanvas. Kehadiran pengunjung yang menikmati pameran lukis abstrak ini  dianggap sebagai langkah awal memasuki ranah batin para senimannya.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Memori Keng Sien Dalam Ruang Galeri

Di Galeri Salihara Jakarta, beberapa karya Keng Sien mulai diperlihatkan kembali kepada publik. Di sana terdapat karya-karya Keng Sien dari awal kariernya yang tampak lebih barok dan arsitektural hingga karya-karya dari tahun-tahun terakhirnya yang kembali pada kesederhanaan. Sebuah kesederhanaan yang hanya didapat dari penguasaan keperajinan yang mumpuni setelah lama merambah, mendalami dan meninggi: sebuah makrifat dengan tajuk University of Rest and Relax.


+ lanjut
Goresan Festival India 2015

25 perupa tersebut juga tergabung dalam Association of South East Nation (ASEAN) dan India yang pada 2012 lalu memamerkan karya di Darjeeling, India.Perupa tersebut antara lain seniman asal Yogyakarta Pupuk Daru Purnomo dan Ivan Sagita (Indonesia), Dr.Hj.Zakaria bin HJ. Hamid dan Osman Mohammad (Brunei Darussalam), Em Riem dan Sareth Svay (Kamboja).


+ lanjut
Mengenang Seniman Grafis Perempuan Indonesia

Kepala Galeri Nasional, Tubagus Sukmana mengatakan sebelum Marida meninggal, ia mengimpikan untuk menggelar pameran tunggal karyanya. Namun hal itu belum tercapai. Tak pelak, Tubagus begitu bahagia bisa merealisasikan cita-cita mendiang Marida lewat pameran bertajuk, Kiprah Perempuan Pegrafis Indonesia.

 


+ lanjut