home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Perjalanan Maestro Lukis Henri Matisse
 
> Perjalanan Maestro Lukis Henri Matisse
Minggu, 01 April 2012

Oleh Degina Juvita

Fauvisme dikenal sebagai salah satu aliran melukis dalam seni rupa modern. Gaya ini kerap menggunakan harmoni warna dalam mengekspresi lukisan. Henri Matisse adalah pelukis yang berpengaruh dalam seni rupa modern fauvisme. Matisse sempat belajar melukis kepada Gustave Moreau pada 1892, sehingga karya-karyanya sempat terpengaruh oleh pendekatan yang digunakan Moreau, khususnya saat melukis tubuh telanjang. Pada dasarnya Moreau membebaskan anak didiknya untuk berkarya. Ia tidak ingin anak didiknya mempunyai karya yang sama dengannya.

Karya lukis Matisse juga sempat dipengaruhi oleh gaya lukis Paul Signac, yang dikenal sebagai penganut gaya pointilist. Ia mengkonstruksikan lukisan dengan titik-titik sebagai ekspresi berkarya. Warna pada titik dipakai bukan untuk menciptakan bentuk, melainkan ekspresi sang pelukis.

Kita bisa menyaksikan lukisan Signac saat berkunjung ke St. Lorenz. Dalam lukisan itu terlihat titik-titik yang membentuk lukisan St. Lorentz. Matisse, terkesan panasnya udara dan teriknya matahari kawasan Mediterania yang tampak menjadi sumber cahaya dalam karya Signac--  akhirnya dialami langsung pada saat kunjungan pertamanya ke kawasan selatan Perancis itu. Matisse membuat lukisan bergaya pointilist yang berjudul “Lux, Calme et Volupte”(1904).

Dalam lukisan  berjudul “La Japonaise : Woman Beside the Water” (1905) Matisse menerapkan warna-warna cerah seperti biru, magenta, dan hijau. Di antara garis-garis tebal berwarna biru-putih, kita bisa menemukan sesosok perempuan Jepang memakai kimono. Lukisan ini menawarkan begitu banyak warna, dan ini merupakan salah satu ciri khas gaya Fauvisme.

Lain lagi dengan karyanya berjudul “The Piano Lesson” (1916). Di sini Matisse banyak menerapkan unsur-unsur kubisme sebagaimana dikenal sebagai gaya Pablo Picasso. Sosok figur pelatih piano ditampilkan dengan warna putih.

Seiring berjalannya waktu, Matisse semakin menemukan gaya tersendiri. Seperti dalam karyanya “Dance”. Lukisan itu tidak lagi disebut sebagai Fauvisme. Matisse menggunakan blok-blok warna, bidang-bidang yang dijadikan rata, serta penekanan pada proses, lewat penggunaan penementi (jejak-jejak proses dalam penggarapan sebuah karya seni rupa).

Matisse dan Fauvisme hanya berlangsung dalam waktu singkat (1904-1908). Setelah Caezar meninggal pada 1906, Matisse dan Picasso bersaing untuk merebutkan tahta dalam seni modern barat. Namun tanpa disadari, kedua perupa ini menjadi sahabat karib.

Para pelukis Fauvis pernah memamerkan karya mereka di Salon d’Automme pada musim gugur 1905, di Paris. Lukisan mereka mendapat kritikan yang berbunyi ‘Binatang Liar’. Dari sinilah timbul nama Fauvisme. Pemaparan tentang Matisse dan Fauvisme ini, menjadi modul ketiga dalam kursus online MoMMA, di @america, mal Pacific Place, Jakarta, pada 31 Maret. Materi disampaikan melalui video dari Larissa Bailiff, pengajar dari MoMMA dan dipandu oleh Amir Sidharta.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Monolog Satir Tentang Sang Wakil Rakyat

Di panggung Bentara Budaya Jakarta, Ine beraksi dari sebuah sudut dengan menggunakan sebuah topeng. Ia membuka pertunjukkan dengan sedikit memainkan tarian dengan melekukkan tubuhnya. Sesaat kemudian naskah monolog pun mulai dimainkannya. Ya, Ine memang sedang memainan sebuah monolog namun ada pelibatan dari komunitas Gradag-Grudug agar monolog terlihat lebih atraktif.


+ lanjut
Melahirkan Kembali Kota Tua Yang Futuristik

Sampai saat ini, kawasan Kota Tua masih menjadi pusat sejarah dan hiburan masyarakat yang rindu sejarah masa lalu dan keindahan arsitekturnya bergaya Eropa Belanda. Banyak manfaat yang didapat dengan berkunjung ke Kota Tua. Namun, ada beberapa bangunan di kawasan itu yang tak terawat. Padahal, kawasan Kota Tua sudah menjadi Cagar Budaya.


+ lanjut
Memadukan Seni dan Iman Lewat Kaligrafi

Dari 59 karya yang dipamerkan, lima di antaranya berbentuk seni kaligrafi tiga dimensi, masing-masing berjudul Bulan Penuh Berkah, Al Amal Hidayatullah,  Number Five, Pada Titik Koordinat Illahiah dan Sapi Betina. Sementara itu 36 peserta yang mengikuti tidak semuanya berasal dari seniman kaligrafi,  beberapa merupakan seniman seni rupa. Pameran tersebut di selenggarakan untuk menyemarakkan bulan Ramadhan oleh para seniman kaligrafi dan seniman seni rupa.


+ lanjut