Oleh Degina Juvita
Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (Garajas) kembali membangkitkan karya-karya seniman yang tergabung di dalamnya. Sanggar seni rupa yang digagas oleh Dimaz Prasetyo pada 1974 ini, menggelar sebuah pameran bertajuk “Mengumpulkan Yang Berserakan”. Kata ‘berserakan’ disini bermakna para seniman yang telah tersebar kemana-mana. Di usia yang ranum ini, Sanggar Garajas mengumpulkan para anggotanya untuk bersama-sama mengekspresikan eksistensinya sebagai sebuah kelompok seni rupa.
Pameran ini diikuti sebanyak lebih dari 50 peserta yang merupakan anggota sanggar Garajas. Berbagai jenis lukisan hadir meramaikan dinding Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sejak 3 April.
Lukman Sh, Ketua Sanggar Seni Rupa Garajas, kali ini menampilkan dua karya akrilik di atas papan tiga dimensi berjudul “Tumpukan buku-buku” dan “Borobudur”. Lukman memakai konsep tiga dimensi, dimana objek-objek di dalamnya memiliki sudut. Jika dilihat dari jarak jauh sambil berjalan, maka lukisan akan menciptakan ilusi seakan-akan bergerak. “Prinsip dasarnya adalah perspektif kebalikan. Waktu dilihat akan jadi kacau. Yang dekat terlihat jauh, begitu juga sebaliknya,” ujar Lukman.
Beberapa lukisan terlihat memiliki tema yang sama-- namun berbeda ekspresi. Semisal, epos pewayangan karya Eko Bhandoyo, melukiskan tokoh-tokoh dan elemen dalam pewayangan-- disertai beberapa simbol kenegaraan. Di dalam motif gunungan terdapat simbol gedung MPR dan DPR. Selain juga ada bendera merah-putih Indonesia. Lukisan ini diberi judul “Mau dibawa Kemana”.
Ada pula lukisan berjudul “John Lennon + Yoko Ono” karya Widro Mansoer. Lukisannya memakai konsep bolak-balik. Satu kepala namun punya dua wajah. Satu sisi menunjukkan wajah John Lennon, jika dibalik berubah wajah menjadi Yoko Ono. Kedua pesohor ini sama-sama menggunakan kacamata, sehingga menjadi pusat perhatian.
Pameran digelar untuk merayakan hari jadi Sanggar Garajas ke-38. Kegiatan akan berlangsung hingga 14 April mendatang. Perhelatan seni Sanggar Garajas menggambarkan kinerja para anggota dan keberadaan sanggar dalam kiprahnya mendorong perkembangan seni rupa di Indonesia.



.jpg)





