Oleh Yuli Yanti
Konser kelompok musik etnik “Plenthong Konslet” tampil menghibur ratusan penonton di Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu malam, 14 April 2012. Kelompok musik eksperimental memadukan beragam alat-alat musik seperti demung, saron, bonang, gendang, gitar, bass, keyboard dan drum. Mereka menyuguhkan aransemen musik rock dengan cita rasa gamelan tradisi Jawa yang kental.
Sesuai temanya “Gamelan for Nationalism and Culture”. Kelompok musik ini terdiri dari 10 musisi muda membawakan lagu-lagu semangat nasionalis dan beberapa lagu ciptaan mereka antara lain: Ibu Pertiwi, Gebyar-Gebyar, Khatulistiwa, It’s My Life, Jalan-Jalan dan middle instrumental musik-musik daerah. Penampilan mereka mewakili semangat melestarikan budaya Indonesia, bertelanjang dada dengan menggunakan kain batik dan ikat kepala.
”Tema ini merupakan apresiasi kami terhadap negeri ini-- dengan membawakan lagu-lagu nasionalisme. Musiknya menggabungkan alat musik barat dan tradisional Indonesia sebagai pelestari kebudayaan,“ ujar Gareng yang memainkan musik demung.
Konser terasa riuh, hidup dan mengocok perut penonton yang memadati gedung pertunjukkan. Mulai dari kain yang digunakan Whedas (Vokal), merosot saat menyanyikan lagu Gebyar-Gebyar. Jadilah Whedas tampil bercelana pendek, sebelum lagunya berakhir. Tawa penonton pun gerrr… menggema. Sampai saat duo, si pembawa acara Anang NingNongNingGung dan Punyi dari Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta-- mengajak penonton ikut tampil di atas panggung.
Di sela pertunjukkan, mereka bercerita dibalik penggarapan konser ini selama satu tahun. Penonton disuguhi rekaman wawancara dan perjalanan mereka, mulai kumpul bareng hingga latihan di studio yang berada di Kota Gede. Kisah-kisah itu ditayangkan pada sebuah tiga layar putih di atas panggung.
Plenthong Kosnlet terdiri dari alumni Sekolah Menengah Musik (SMM), Yogyakarta, diantaranya Tegar Satria, Rimba Nurdi , Dadang maulana, M. Riozki Eka Putra, Adimas, Zamrud Whidas Pratama, Adi Dharmawan, Herdian Dwi Saputra, Abednego Johan dan Radyan Sugandi. Akhirnya mereka dapat mewujudkan konser budaya-- yang ditunggu-tunggu sejak kelompok musik ini berdiri 2009 lalu. Di tengah maraknya grup band dan boyband dari luar negeri, kelompok ini berharap kolaborasi musik tradisional dan modern membangkitkan semangat musik dan budaya di Indonesia.




.jpg)





