home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Monikaku di Benak Ibnu!
 
> Monikaku di Benak Ibnu!
Jumat, 20 April 2012

Oleh Degina Juvita

Kanvas berdimensi 120 x 80 cm. Dua topeng berwarna merah-biru bersanding kerangka ikan asin yang berduri. Tertera sebuah judul “Ada Loe Ikan Asin Juga”. Pelukis menciptakan karya ini untuk sebuah pesan yang bernada kritik sosial. Ikan asin dan topeng berwarna, menyimbolkan kemiskinan dan kepalsuan. 

Tak jauh dari lukisan itu, menempel lukisan berisi topeng-topeng saling berdempet. Warna yang berbeda dengan ekspresi wajah topeng yang berbeda pula. “Yang Menang Dan Yang Kalah” itulah judul lukisannya. Pelukis kembali menyuarakan kritikan terhadap keberadaan partai politik. Warna-warna topeng itu juga menyerupai warna-warna partai politik di negara ini.

Ibnu Nurwanto, perupa yang lama berkarya dengan media kayu (patung), kini menampilkan  pameran tunggalnya “Monikaku”. Pameran karya lukisnya menjadi momen penting dan pertama bagi Ibnu. “Saya merasa terlahir kembali dengan semangat baru saat melukis. Saya sudah khatam membuat patung,” ujar Ibnu.

Menciptakan karya lukis, bukan berarti meninggalkan seni patung. Di pameran ini, Ibnu juga menyertakan karya-karya patungnya. Dimensi yang berbeda, namun beberapa objek menyuarakan sama yakni, kemiskinan. Diantara objek patung, ‘ikan asin’ mendominasi karyanya. Empat patung berbentuk ikan asin, dijadikan karya seri dalam pameran. Lekuk tubuh ikan terbelah dua, struktur tulang dan tekstur warna kayu sebagai material utama, mampu menciptakan anatomi ikan asin menjadi karya artistik.

Selain ikan asin, Ibnu memamerkan objek tubuh perempuan. Seperti karya berjudul “Cerita Tentang Perempuan”. Jangan  harap menikmati sisi molek tubuh nan seksi pada karya ini. Ibnu membuatnya berbeda. Kayu berdimensi lebar 29 x 40 cm, dan tinggi 188 m, dibuat tipis dengan lipatan bertumpuk dari kayu nangka. Tampak sesosok wajah terbungkus dibagian depan, dan lekuk bokong yang juga terbungkus lipatan. Ibnu memaknai karyanya bahwa perempuan biasanya hanya dinilai dari wajah dan bokong. Sisanya berupa bungkusan baju.

Tatkala membaca tema pameran “Monikaku”, seakan terlintas di benak nama perempuan. Toh, ternyata buka itu maksud Ibnu. “Monikaku memiliki arti moral kini kacau karena uang, ”sergah perupa kelahiran Februari 1957 lalu. Pameran diadakan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Akan berlangsung pada 19 - 28 April mendatang.

KOMENTAR
Nama : i m n
Komentar : ibnuku tetap seperti dulu... original, menyentuh ke dalam inti kehidupan, dan menghasilkan karya lewat perenungan yang dalam. All the best for you.. MONIKAMU
KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Bayang-Bayang Manusia di Kereta Api

Kereta api merupakan moda transportasi publik yang populer. Dengan beragam aspek keuntungan bila menggunakan transportasi ini; murah dan ramah lingkungan.


+ lanjut
Tanda Karya Sri Warso Wahono

Sri Warso Wahono, seniman kelahiran Solo, telah menggeluti seni lukis sejak 1962. Hingga kini Sri Warso menginjak tahun ke- 50 dalam sejarah berkarya, sebagai penanda ia berkarya.


+ lanjut
Perupa Menggelorakan Semangat Kebangsaan

Berawal dari sebuah kelompok mahasiswa se-angkatan dengan aktivitas kesenian, komunitas Greget’ 95’ eksis berkarya.


+ lanjut