Oleh Degina Juvita
Kanvas berdimensi 120 x 80 cm. Dua topeng berwarna merah-biru bersanding kerangka ikan asin yang berduri. Tertera sebuah judul “Ada Loe Ikan Asin Juga”. Pelukis menciptakan karya ini untuk sebuah pesan yang bernada kritik sosial. Ikan asin dan topeng berwarna, menyimbolkan kemiskinan dan kepalsuan.
Tak jauh dari lukisan itu, menempel lukisan berisi topeng-topeng saling berdempet. Warna yang berbeda dengan ekspresi wajah topeng yang berbeda pula. “Yang Menang Dan Yang Kalah” itulah judul lukisannya. Pelukis kembali menyuarakan kritikan terhadap keberadaan partai politik. Warna-warna topeng itu juga menyerupai warna-warna partai politik di negara ini.
Ibnu Nurwanto, perupa yang lama berkarya dengan media kayu (patung), kini menampilkan pameran tunggalnya “Monikaku”. Pameran karya lukisnya menjadi momen penting dan pertama bagi Ibnu. “Saya merasa terlahir kembali dengan semangat baru saat melukis. Saya sudah khatam membuat patung,” ujar Ibnu.
Menciptakan karya lukis, bukan berarti meninggalkan seni patung. Di pameran ini, Ibnu juga menyertakan karya-karya patungnya. Dimensi yang berbeda, namun beberapa objek menyuarakan sama yakni, kemiskinan. Diantara objek patung, ‘ikan asin’ mendominasi karyanya. Empat patung berbentuk ikan asin, dijadikan karya seri dalam pameran. Lekuk tubuh ikan terbelah dua, struktur tulang dan tekstur warna kayu sebagai material utama, mampu menciptakan anatomi ikan asin menjadi karya artistik.
Selain ikan asin, Ibnu memamerkan objek tubuh perempuan. Seperti karya berjudul “Cerita Tentang Perempuan”. Jangan harap menikmati sisi molek tubuh nan seksi pada karya ini. Ibnu membuatnya berbeda. Kayu berdimensi lebar 29 x 40 cm, dan tinggi 188 m, dibuat tipis dengan lipatan bertumpuk dari kayu nangka. Tampak sesosok wajah terbungkus dibagian depan, dan lekuk bokong yang juga terbungkus lipatan. Ibnu memaknai karyanya bahwa perempuan biasanya hanya dinilai dari wajah dan bokong. Sisanya berupa bungkusan baju.
Tatkala membaca tema pameran “Monikaku”, seakan terlintas di benak nama perempuan. Toh, ternyata buka itu maksud Ibnu. “Monikaku memiliki arti moral kini kacau karena uang, ”sergah perupa kelahiran Februari 1957 lalu. Pameran diadakan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Akan berlangsung pada 19 - 28 April mendatang.








