home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Gemerlap Kemewahan Sepatu Louboutin
 
> Gemerlap Kemewahan Sepatu Louboutin
Rabu, 02 Mei 2012

Oleh Farida Indriastuti
Foto: sandiinthecity.onsugar.com

Dua belas bulan lalu. Kurator Donna Loveday mengunjungi desainer sepatu Christian Louboutin di Studio Paris untuk membincangkan pameran ‘Retrospektif’ yang dibuka pada Selasa, di London Design Museum, Inggris. Louboutin bukan hanya pembuat sepatu sukses dengan reputasi internasional.

Ia penyedia sol merah glossy, hingga merancang sepatu-sepatu pria untuk karpet merah--  di antara kaki-kaki jenjang para pesohor dunia. Kurator menjelajahi ruang kerja yang berantakan, tak teratur. “Saya tahu bahwa wanita memuja sepatu,“ ujar Loveday, “Kami ingin pengunjung datang dan pergi dengan pemahaman, bagaimana Louboutin merancang, apa yang mengilhaminya, dan melihat karyanya langsung.”

Pameran akan memiliki daya tarik, tidak hanya karena Louboutin bergelut di dunia fesyen selama 20 tahun-- sejak toko pertamanya dibuka di kota Paris. Tetapi disebabkan, ia telah menunjukkan proses kreatif pada seorang pria, Deyan Sudjic, Direktur Museum, yang menggambarkan sebagai, “Seorang pengrajin sepatu yang sempurna-- dengan mata yang luar biasa dalam melihat detail. Sebuah kekuatan kreatif yang alami.”

Pameran disusun tematis, dan bergantung pada pernyataan Louboutin bahwa “setiap wanita ingin menjadi seorang gadis panggung”.  Setiap bagian membahas  detail hingga aspek pekerjaan Louboutin, saat awal karirnya sebagai  remaja magang [asisten] di Folies Bergère. Di mana ia menggambar sketsa sepatu untuk para penari di waktu luang.

Rencananya lebih 200 pasang sepatu dipamerkan, dari yang berkilau, bulu, paku, pom-pom hingga embel-embel untuk mengalihkan perhatian pengunjung. Salah satu tema yang dikupas berjudul “Shadow Theatre”, menampilkan tiga bayangan siluet sepatu Louboutin. Bentuknya bertumit tinggi dengan pesona mengagumkan.

Dalam konferensi pers, Louboutin menjelaskan bahwa kesulitan dari pameran sepatunya yakni sepatu selalu dipandang sebagai obyek daripada dilihat dari kegunaannya. "Ketika saya merancang mulai dari sketsa, tetapi tidak pernah menyelesaikan sampai-- saat melihat seseorang berjalan kaki,” ujarnya.

Lauboutin berkelakar, “Tidak pernah bertemu dengan seorang wanita yang ingin kaki pendek”. Pameran sepatu Christian Louboutin akan di gelar  di London Design Museum, dan berlangsung hingga 9 Juli 2012 nanti.

(Sumber: The Guardian)

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Memaknai 'Playground' Dalam Fotografi

“Hmmm... Alas kaki!” Bagi perempuan Indonesia mengesankan gaya dan prestise sosial. Untuk mencapai kebutuhan itu,  tanpa sadar kaum hawa telah menciptakan hal-hal paradoks dalam diri mereka.


+ lanjut
Mengusung Multikulturalisme Di Atas Panggung

Gangsadewa tak menggunakan bahasa agama tertentu. Mereka memilih lagu dengan lirik berbahasa Jawa sebagai penyatuan. Aransemennya pun tak melulu bergaya Jawa, sepanjang lagu mereka memainkan musik dengan nada-nada tarling Sunda, Kalimantan, hingga Sulawesi. 


+ lanjut
Museum Perupa Perempuan Pertama

Di museum perupa perempuan Indonesia yang belum jadi itu terdapat beberapa karya perempuan yang sudah dipajang diantaranya karya Dyan Anggraini, Diah Julianti, Wara Anindiah, dan sejumlah perupa perempuan dari Bandung, Bali dan Jakarta


+ lanjut