Oleh Yuli Yanti
Alam selalu berputar dan berada dalam pusaran perubahan. Dalam perubahan, selalu terselip harapan. Kehidupan pun ibarat pohon, suatu ketika pasti tumbuh besar, bila sudah waktunya. Begitu juga, dari kuncup mengembang jadi bunga yang elok dan semerbak.
Dari penggalan kalimat itu, lima perupa Yogyakarta yang tergabung kelompok Denting memaknai karya artistiknya, dekat dan menyatu alam. Karya mereka bertema “Sirami Tanami” adalah upaya seniman menjaga ekologi dengan merawat tanaman-- demi kelangsungan hidup manusia. Tajuk pameran terkesan sangat terkait agraris. Analogi itu menunjukkan Yogyakarta bukan hanya kota budaya, sekaligus berbasis masyarakat agraris.
Karya-karya lulusan Seni Rupa ISI Yogyakarta ini, menginterpretasikan kondisi negara agraris yang mereka diami. Pada karya Nunung Rianto, tampak menggambarkan derita alam yang dengan lahan gundul dan kering. Seperti karya lukisnya berjudul “Menapak Asa”. Dia mengkritik, penghijuan yang sudah terkotak-kotakan, ibarat dalam sebuah gelas.
Begitu pula, karya Mulya Gunarso berjudul “Elegan, Elegi”. Dua lukisan itu sangat kontras, menggambarkan tanah yang dulunya subur berumput hijau dan dedaunan, lantas lukisan dibawahnya sebaliknya, tampak kering dan gersang.
Hubungan alam dan ekosistemnya ditunjukkan oleh Karte Wardaya, menjadikan sapi perah berwarna warni sebagai objek lukisnya. Sapi-sapi itu dibuatnya terbalik, sehingga puting payudaranya tergambar seperti lanskap bukit-bukit kecil dengan pohon cemara. Dalam imajinasi bebasnya, Karte coba mengilustrasikan alam sebagai ibu, dengan kesuburannya, ia akan memberikan air suci untuk kelangsungan hidup manusia.
Giring Prihatyasono dan Kartiko Prawiro U mengambil jalan yang berbeda. Karya mereka berbentuk gunungan yang dilukiskan Giring-- untuk memainkan lakon perubahan tata sosial di masyarakat. Sementara Kartiko justru memaknai hidupnya secara spiritual. Ia menggambar di 99 lembar kertas berukuran A3. Salah satu karyanya berjudul “Cute Art Prex”. Memiliki makna masa bodoh atau tampak seperti hujatan. Sebuah ekspresi artistik yang tak terbendung lagi.
Bagi kelompok seniman Denting yang terdiri; Giring Prihatyasono, Karte Wardaya, Kartika Prawiro U, Mulyo Gunarso, Nunung Rianto, mengusung karya dalam pameran, sebagai bentuk keprihatinan terhadap persoalan negeri ini, dan rasa cinta terhadap negeri yang kerap dijuluki negara agraris .
“Cuaca sekarang tidak menentu, kehidupan social-politik sekarang juga amburadul. Perlu bibit-bibit baru yang harus ditanami dan disirami agar tumbuh baru,“ ujar Karte.
Seperti tanaman yang harus di siram dan ditanami, demikian juga seniman harus terus melatih ketrampilan teknis, sembari memberi pupuk pada kepekaan rasa dan pikiran. Pameran seni rupa kelompok Denting ini masih bisa di nikmati di Bentara Budaya Yogyakarta dari 1-9 Mei 2012.




.jpg)





