home | · | aktual | · | seni & kriya | · | Denting Menyemai Berkah Alam
 
> Denting Menyemai Berkah Alam
Jumat, 04 Mei 2012

Oleh Yuli Yanti

Alam selalu berputar dan berada dalam pusaran perubahan. Dalam perubahan, selalu terselip harapan. Kehidupan pun ibarat  pohon, suatu ketika pasti tumbuh besar, bila sudah waktunya. Begitu juga, dari kuncup mengembang jadi bunga yang elok dan semerbak.

Dari penggalan kalimat  itu, lima perupa Yogyakarta yang tergabung kelompok Denting memaknai karya artistiknya, dekat dan menyatu alam.  Karya mereka  bertema “Sirami Tanami” adalah upaya seniman menjaga  ekologi dengan merawat tanaman-- demi kelangsungan hidup manusia. Tajuk pameran terkesan sangat terkait agraris. Analogi itu menunjukkan Yogyakarta bukan hanya kota budaya, sekaligus berbasis masyarakat agraris.  

Karya-karya lulusan Seni Rupa ISI Yogyakarta ini,  menginterpretasikan kondisi negara agraris yang mereka diami. Pada karya Nunung Rianto, tampak menggambarkan derita alam yang dengan lahan  gundul dan kering.  Seperti karya lukisnya berjudul “Menapak Asa”. Dia mengkritik, penghijuan yang sudah terkotak-kotakan, ibarat dalam sebuah gelas.

Begitu pula, karya Mulya Gunarso berjudul “Elegan, Elegi”.  Dua lukisan itu sangat kontras, menggambarkan tanah yang dulunya subur berumput hijau dan dedaunan, lantas lukisan dibawahnya sebaliknya, tampak kering dan gersang.

Hubungan alam dan ekosistemnya ditunjukkan oleh Karte Wardaya, menjadikan sapi perah berwarna warni  sebagai objek lukisnya. Sapi-sapi itu dibuatnya terbalik, sehingga puting  payudaranya tergambar seperti lanskap  bukit-bukit kecil dengan pohon cemara. Dalam imajinasi bebasnya, Karte coba mengilustrasikan alam sebagai ibu, dengan kesuburannya, ia akan memberikan air suci untuk kelangsungan hidup manusia.

Giring Prihatyasono dan Kartiko Prawiro U mengambil jalan yang berbeda.  Karya mereka berbentuk gunungan yang dilukiskan Giring--  untuk memainkan lakon perubahan tata sosial di masyarakat. Sementara Kartiko justru memaknai hidupnya secara spiritual.  Ia  menggambar di  99 lembar kertas berukuran A3. Salah satu karyanya berjudul “Cute Art Prex”. Memiliki makna masa bodoh atau tampak seperti hujatan.  Sebuah ekspresi artistik yang tak terbendung lagi.

Bagi kelompok seniman Denting  yang terdiri;  Giring Prihatyasono, Karte Wardaya, Kartika Prawiro U, Mulyo Gunarso, Nunung Rianto,  mengusung karya dalam pameran, sebagai bentuk keprihatinan terhadap persoalan negeri ini,  dan rasa cinta terhadap negeri yang kerap dijuluki negara  agraris .

“Cuaca sekarang tidak menentu, kehidupan social-politik sekarang juga amburadul. Perlu bibit-bibit baru yang harus ditanami dan disirami agar tumbuh baru,“ ujar Karte.

Seperti tanaman yang harus di siram dan ditanami, demikian juga  seniman harus terus melatih ketrampilan teknis, sembari memberi pupuk pada kepekaan rasa dan pikiran. Pameran seni rupa kelompok Denting ini masih bisa  di nikmati di Bentara Budaya Yogyakarta dari 1-9 Mei 2012.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Nikmati Sejenak Musik Jazz Progresive Perancis

Gaya bermusik yang dibawakan oleh Limousine terbilang unik. Grup yang digawangi oleh Laurent Bardaine (keyboard/saxofon), David Aknin (drum), Maxime Delpiere (gitar), Frederic Soulard (keyboard) itu hanya memainkan instrumen musik tanpa lirik. 


+ lanjut
Seni Sebagai Perlawanan!

Yayak atau biasa disapa “Yaya Kencrit” menampilkan puluhan karya-karya poster yang telah ia produksi selama bertahun-tahun di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran yang dibuka pada Jumat 17 Mei 2013 lalu itu-- mengambil tema “Gambar Sebagai Senjata, Rakyat Berjiwa Merdeka”. 


+ lanjut
Racikan Jazz-Progesive Rock di Pesta Jazz

Gugun Blues Shelter (GBS) berencana meracik blues, jazz, dan progresive rock di sejumlah repertoar yang akan dibawakannya di Balikpapan Jazz Fiesta (BJF), Pantai Kemala, Balikpapan, Kalimantan Timur pada 31 Mei-1 Juni 2013.


+ lanjut