Oleh Degina Juvita
Berjajar potret kehidupan masyarakat di ruas dinding Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki. Mereka bertahan dan berjuang untuk hidup dengan caranya. Simbol ‘keseharian’ menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Kisah, dan ada pesan tersirat dibalik rekaman visual itu.
“Jaranan = Kehidupan Sugeng”, sebuah cerita yang digambarkan melalui bidikan kamera, soal ulasan singkat mengenai seorang penari asal Malang, Jawa Timur. Tubuh sintalnya melenggok, dan menjadi rutinitas kesehariannya. Bermodal ‘nekad’ untuk menghasilkan rupiah, mendasari Sugeng bertahan hidup di kota Malang. Lelaki berumur 54 tahun, setiap hari mengais rejeki dengan mengamen jaranan. Bingkai foto itu mengisahkan potret aktivitas Sugeng. Dua alat ‘kaset’ dan ‘tape’ menjadi senjata pamungkasnya-- saat beraksi tari jaranan di depan toko kelontong, berlatar dinding dengan coretan angka-angka rupiah. Bersanding pula perkakas tarinya tergantung di ruang yang sama. Potret liris itu dibidik oleh Darmono.
Foto lain berkisah soal polemik gereja HKBP Filadelfia. Objek foto terlihat, para jemaat beribadah di ruang terbuka-- yang semestinya di dalam gereja. Meski beribadah di pinggir jalan, tak menyurutkan keimanan mereka para jemaat. Ada dalam posisi berdiri, melingkar hingga jongkok di samping pagar-- sembari melafalkan kidung doa. Itulah kisah miris dalam foto berjudul “Rantai Intoleransi” bidikan dari Andika Putra Maruli Sitompul. Karya ini menampilkan sikap arogansi kelompok garis keras yang mengabaikan hak-hak keyakinan lain.
Beralih pada objek desa di lereng gunung, di Ponorogo, Jawa Timur. Mengisahkan penyandang Down Syndrome, dan hampir separuh penduduk desa. Tak jelas apa penyebabnya. Keterbelakangan mental di desa itu terjadi secara turun-temurun. Melalui potret “Sindrom Sidowayah”, Doni Purnomo ingin myampaikan resah yang nyaris diabaikan publik.
Peran fotografi dalam upaya kemajuan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak asasi manusia sangat penting. Dengan fotografi sebuah kejahatan dapat diungkap. Foto sama dengan fakta yang mewakili seribu kata-kata. Poros Photos bekerjasama Komnas HAM, didukung Yayasan TIFA, menggelar workshop “Fotografi Dokumentasi Sosial dan HAM” di Jakarta, Semarang dan Kediri. Di tiga kota itu, para peserta workshop merekam segala persoalan sosial yang terjadi di wilayahnya-- dengan pendekatan fotografi dokumentasi sosial.
“Fotografi dokumentasi sosial tidak hanya angle shot yang kuat, tapi kedalaman cerita. Ini sifatnya sangat subjektif. Dalam arti subjektivitas-- hasil yang dalam dengan narasumber,” ujar Dian Ali Rahman, Koordinator Program Poros Photos.
Sebanyak 26 fotografer dari tiga kota diberikan kesempatan untuk mensosialisasikan karya mereka melalui pameran yang bertajuk “In Absentia”. Sebuah kritik bagi negara yang kerap abai terhadap kasus pelanggaran hak-hak asasi manusia. Pameran berlangsung di Jakarta, hingga 31 Mei mendatang.










