home | · | aktual | · | budaya | · | Ritual Magis Perawan Sunthi
 
> Ritual Magis Perawan Sunthi
Selasa, 24 Juli 2012

Oleh Farida Indriastuti

Foto: Eko Budi Setyono

Terik matahari begitu menusuk tulang. Di sepanjang jalan desa Olehsari, muda-mudi begitu riang. Pria dan perempuan dewasa, berikut anak-anaknya menjejak tanah lapang di ujung desa. Upacara adat akan dilangsungkan oleh para sesepuh adat, perangkat desa hingga pemerintah daerah. Turis mancanegara pun tak ketinggalan, berebut posisi agar dapat menyaksikan peristiwa langka nan unik ini.

Suara penonton menyeruak ditengah suasana, teramat riuh. Apalagi lima orang penonton mendadak kesurupan. Tak ada yang tahu, mengapa peristiwa diluar nalar 'berbau klenik' itu terjadi? Para dukun desa, atau yang akrab disapa "pawang" menyesalkan roh-roh halus tak sudi mampir dan merasuki gadis perawan desa yang didapuk jadi "Seblang". Para sesepuh adat marah dan berspekulasi, "Jin dari Madura dan partai politik sengaja menggagalkan prosesi ritual magis itu". "Mereka ingin desa ini dilanda bencana!" teriak sesepuh desa.

Mendadak tetabuhan gamelan mengalun ritmis, dibawah terik matahari desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Penonton bersorak, berformasi sejajar hingga melingkar, sembari meneriakkan yel, "Horeeee...!"  tatkala menyaksikan gadis perawan sunthi berhasil disusupi roh halus. Gerakan sarat kekuatan magis itu ditarikan oleh gadis perawan desa keturunan Seblang yang belum memasuki masa haid.

Dengan bermahkotakan daun pisang dan aneka bunga yang disebut "Omprok". Gadis perawan menggerakkan jari tangannya yang lentik, menggoyang pinggulnya yang sintal-- sembari matanya terpejam dalam tidur. Prosesi ritual Seblang yang klenik ini merupakan kepercayaan suku Using di ujung Jawa Timur, yang diyakini secara turun temurun hingga kini.

Bagi warga Using desa Olehsari, ritual Seblang merupakan perwujudan dan persembahan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus penolak bala-- agar seluruh desa dan warganya terbebas dari penyakit menular, bencana alam dan kegagalan panen. Ritual seblang ini dilaksanakan pada bulan syawal, saat perayaan Idul Fitri, berlangsung  selama 7-10  hari. “Bumi harus dihormati, karena manusia selalu menyusu kepada bumi seperti bayi merah. Bumi itu ibarat ibu kita, jadi jangan dirusak bumi ini! “ujar sesepuh Seblang.

Di ujung desa, gadis perawan dipilih secara supranatural oleh dukun desa yang sakti. Tak sembarang gadis boleh menarikan ritual Seblang, hanya keturunan penari Seblang yang berhak menjadi tokoh kunci. Konon, ritual ini telah berumur puluhan tahun, hingga tak terlacak jejaknya. Upacara adat diawali dengan pembacaan “mantra-mantra” oleh dukun desa. Si dukun menyalakan dupa, sedangkan si gadis perawan dengan mata terpejam (ditutup tangan oleh istri dukun desa)-- berdiri sambil memegang tempeh bambu.

Bila tempeh terjatuh ditanah, itu pertanda si gadis perawan kesurupan roh halus yang merasuki tubuh. Maka pertunjukan magis  dimulai. Gadis perawan dengan mata terpejam, menari tak karuan. Ia kejiman roh selama empat jam, menari dengan gerakan pelan yang monoton-- mengikuti arah sang dukun. Lalu bergerak cepat dan menghentak, diiringin tetabuhan gending-gending para nayaga, juga alunan suara para pesinden.

Gadis perawan didampingi para sesepuh seblang, lelaki dan perempuan tua. Sesekali ia menari sembari melempar kain sampurnya pada kerumunan penonton, teriakan histeris pun menggema. Bila penonton terkena lemparan sampur,  ia harus siap (mau) beradu tarian dengan gadis perawan. Bila ditolak, si penari yang kerasukan roh akan mengamuk sejadi-jadinya.

Tak ada yang menolak ritual itu-- sebab warga desa percaya ritual Seblang memiliki makna. Bila gagal  terlaksana, warga desa percaya malapetaka akan melanda. "Dulu di tahun 1970-an, wabah penyakit mematikan menghancurkan desa,  hingga banyak yang meninggal, "kilah sesepuh desa. Bahkan para janda dan perawan desa Olehsari pun berebut kembang yang dibubuhi mantra yang dipercaya akan mendatangkan berkah rejeki dan jodoh.

Ritual adat Seblang turun-temurun tetap terjaga. Pemerintah Daerah Banyuwangi pun melestarikan kebudayaan rakyat agraris itu. Bila dipahami secara dalam, ritual Seblang merupakan bentuk kearifan lokal suku Using dalam menjaga alam dan lingkungannya. Warga desa takut-- bila alam dan bumi (yang dianggap ibu) akan murka, bila ritual Seblang gagal terlaksana. Rusaknya alam dan lingkungan akan mendatangkan 'karma' yang besar. Tak heran bila, suku Using enggan menggali tanah untuk sumur, sebab sumber air begitu berlimpah. Menggali tanah sama dengan melukai bumi berarti melukai perut ibu. Pada bulan Syawal ritual magis ini dapat Anda saksikan di desa Olehsari!

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Para Tokoh Berpuisi

Puisi karya penyair Taufik Ismail berjudul “Kembalikan Indonesia Kepadaku” dibacakan oleh Butet Kertaredjasa yang piawai dalam pentas monolog itu. Butet membaca puisi karya penyair kawakan itu-- tak sekedar membacanya tetapi juga merespon secara kreatif puisi yang dibacakannya. 


+ lanjut
Berbagi Rasa Dalam Balet Kontemporer

Sederet repertoar ini merefleksikan emosi yang berbeda-beda kepada penonton. Fugaz, misalnya, hendak menyampaikan perasaan kehilangan orang tercinta.  Sato, selaku koreografer, mendedikasikan repertoar ini sebagai penghormatan kepada mendiang ayahnya. 


+ lanjut
Jelajahi Pemikiran Budayawan Umar Kayam dan Kuntowijoyo

Pidato Umar Kayam dibahas bersamaan dengan pemikiran Kuntowijaya dalam diskusi bulanan bertajuk  “Jelajah Pemikiran Umar Kayam dan Kuntowijoyo” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kebudayaan (PSK), Universitas Gajah Mada (UGM), 24 April 2013. Pemikiran kedua budayawan tersebut  dibahas oleh dua pembicara; B.Rahmanto dan Partiningsih.


+ lanjut