Oleh Yuli Yanti
Ada yang menarik saat pagelaran Jogja Fashion Week (JFW) beberapa pekan lalu. Yakni keikutsertaan batik lereng merapi pada pesta fesyen akbar itu. Batik bermotif flora dan fauna khas merapi, kreasi para korban erupsi Merapi dari Desa Tegal Balong, Umbulhardjo, Cangkringan, Sleman. Membatik menjadi salah satu mata pencarian masyarakat setelah erupsi Merapi pada 2010 lalu.
Dua tahun berlalu, menyisakan duka ekonomi bagi warga lereng Merapi. Mereka kehilangan pekerjaan yang sebagian besar sebagai penambang besi, pemerah sapi hingga berkebun. Tak terkecuali Ana Ratna Ningsih (28), yang kini menjadi ketua pengrajin batik lereng merapi.
Suasana nyaman terasa saat melintasi desa Tegal Balong. Di tepi jalan, sebuah bangunan bambu tempat kegiatan workshop batik lereng merapi. Ana sedang mencolet motif batik yang belum selesai. Beberapa helai kain yang sudah dibatik dengan beragam motif-- belum diberi pewarna masih menumpuk di ruangan workshop itu. “Waktu satu tahun paska erupsi Merapi, batik ini membantu ekonomi disini. Karena pemasarannya kurang, ibu-ibu disini balik menambang pasir lagi, ”ujar Ana.
Membatik sesungguhnya bukan tradisi warga Tegal Balong. Para pengrajin dilatih oleh Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sleman serta Dewan Kerajinan Nasional Provinsi DI. Yogyakarta beberapa bulan lalu. Hingga akhirnya, mereka mampu memproduksi batik sendiri. Usai mengikuti pelatihan membatik, Ana dan kawan-kawannya diminta untuk membagi ilmu batik. Ia pun melatih anak-anak sekolah yang liburan di desa wisata Pentingsari, membatik selama setahun.
Sejauh ini pemasaran produk batik lereng merapi masih terbatas. Kain batik dijual lewat etalase dan rumah Ana yang berada di belakang workshopnya. Tidak hanya pada pemasarannya, kelompok ini juga kesulitan mencipta desain motif batik diatas kain mori. Selama ini, kelompok batik lereng merapi mempercayai Sauri, pelajar SMK Kalasan, untuk memindahkan rancangan motif ke atas kain mori. “Kita kesulitan, karena itu yang mendesain anak sekolah SMK Kalasan. Kita punya gambar, dia langsung menggambar di kain, ”tutur Ana.
Beragam motif batik telah dibuat Ana dan kawan-kawannya. Batiknya pun laku terjual melalui berbagai ajang pameran. Geliat batik lereng merapi pun mulai dilirik oleh para pencinta batik. Semisal, motif batik tulis lahar merah telah di beli Linda Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Batik-batik tulis itu dijual dengan kisaran harga Rp. 100 ribu hingga jutaan-- tergantung tingkat kesulitan membuatnya.
Menurut Ana, motif yang laku adalah batik berwarna cerah (‘ngejreng’) dengan teknik pewarna colet. Ana sendiri membuat sistem upah untuk kawan-kawannya yang membantu membatik. Usaha yang dirintis Ana dan kawan-kawannya memang belum berbasis kelompok atau komunitas. Sistem itu digunakan karena hampir semua modal produksi masih menjadi tanggungjawab Ana dan suami.
Sejak lembaga international, Organization for Migration (IOM) melakukan pendampingan dalam program penguatan ekonomi kreatif dan pengurangan resiko bencana, kelompok ini mendapat bantuan pemasaran. Salah satunya, keikutsertaan batik lereng merapi dalam ajang JFW awal Juni lalu, selain pelatihan desain dan pewarnaan alami.
.









