Oleh Yuli Yanti
Foto: Dian Ali Rahman
Kitiran, othok-othok, wayang kertas, payung kertas merupakan mainan tradisional anak-anak yang diwariskan turun-temurun. Entah sejak kapan pertama kali mainan itu dibuat. Namun, di desa Pandes, Panggungharjo - Bantul, Yogyakarta, pembuat mainan adalah perempuan-perempuan sepuh yang usianya diatas 80 tahun. Para pengrajin sepuh sudah membantu orang tua mereka membuat mainan sejak masa kecil. Terbayangkan berapa lama riwayat mainan anak tradisional itu?
Desa Pandes terasa lengang-- saat terik matahari meninggi di kampung yang dijuluki ‘kampung dolanan’ itu. Penduduknya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Hanya tampak anak-anak yang riang bermain di pelataran rumah. Tak sulit menemukan kampung di kawasan Sewon itu, begitu pun menjumpai rumah pengrajin mainan anak tradisional yang beragam corak dan warna. Di hampir setiap sudut jalan desa, terdapat petunjuk rumah dan nama pembuat mainan dari bambu atau kayu.
Di belakang rumah gedegnya, mbah Joyo Sumarto (80) sibuk membuat kitiran angin kertas. Jari-jari keriput mbah Joyo cekatan membuat mainan kertas yang prosesnya lumayan ribet. Mulai dari pemberian warna pada kertas, membuat pola dan membuat kayu penyangga. Mbah Joyo membuat sendiri mainan-mainan yang dijualnya itu. Mainan-mainan sederhana itu dijualnya dengan harga Rp. 1000 hingga Rp. 2000. Untuk memudahkan mbah Joyo membuat mainan, barang-barang kebutuhannya tak jauh dari bangku duduknya.
Di usia senja mbah Joyo tetap bersemangat. Bekerja tanpa surut dan mengeluh. Di bantu seorang anaknya membeli kebutuhan seperti kertas, kawat kecil, kayu dan kebutuhan lainnya di pasar. Mbah Joyo tak lagi berkeliling menjual mainannya. Ia hanya menunggu pedagang keliling yang datang membeli mainan buatannya. “Ada pedagang yang datang beli ke sini, dulu memang jualan keliliing kota, ”ujar nenek enam anak ini.
Mbah Joyo sendiri tak tahu, sejak kapan mainan-mainan itu diciptakan. Bahkan sejak kecil, mainan itu sudah ada. Seolah terlempar pada kenangan masa kecil-- mbah Joyo membantu orangtuanya membuat kitiran, payung kertas dan othok-othok. Ia ingat, saat zaman revolusi fisik Belanda menyerang kota Yogyakarta, sudah ikut orangtuanya keliling kampung berjualan mainan. “Sejak kecil sudah ikut bantu jualan keliling. Kalau ada serangan dari londo (tentara Belanda) dan bunyi suara tembakan, pesawat di jalan, aku lari-lari ngumpet ketakutan, ”kenang mbah Joyo, nenek 13 cucu dan 3 cicit.
Beberapa jengkal dari rumah mbah Joyo. Tepatnya di rumah mbah Karto Utomo, anaknya Suradi (60) pun disibukkan oleh pesanan wayang kertas dari Jakarta. Sejak pensiunan dari Dinas Kesehatan Yogyakarta, pada 2006 lalu, Suradi membantu mbah Karto membuat tokoh-tokoh wayang kertas. Usia mbah Karto nyaris seabad, tangannya pun tak lagi bagus menggambar tokoh-tokoh pewayangan, yang dikenal dan dibuatnya sejak belia.
Mainan buatan mbah Karto menjadi tulang punggung ekonomi keluarga sejak dulu. Sejak kecil, Suradi pun ikut mbah Karto berjualan mainan. “Mainan-mainan ini menghidupi keluarga, sejak anak-anak kecil. Mbah keliling jualan. Bulan puasa mendekati lebaran jualan di Purworedjo, saya ikut jualan disana, waktu itu lumayan laris-- karena belum banyak disana, ”cerita Suradi.
Sejak dulu, kampung Pandes memang gudangnya pengrajin mainan-mainan anak. Pembuatnya adalah perempuan-perempuan desa yang sejak kecil membantu orangtua mereka. Kini semua memasuki usia senja, pengrajin pun kian surut-- bisa dihitung dengan jari. Apalagi ketika gempa Yogyakarta, 2006 lalu, pekerjaan membuat mainan sempat terhenti selama beberapa bulan.
Rumah-rumah mereka hancur berantakan. Tak hanya harta, nyawa pun melayang. Banyak sekali korban jiwa. Kampung ini bangkit kembali sejak “Pojok Budaya” didirikan oleh pemuda kampong, mereka memperkenalkan dan mempertahankan mainan lokal yang nyaris tenggelam. Mainan anak tradisional buatan leluhur ini-- tetap dilestarikan dan diminati hingga kini.










