home | · | aktual | · | budaya | · | Ragam Hias Keris Bugis
 
> Ragam Hias Keris Bugis
Minggu, 13 November 2011

Oleh Degina Juvita

 
Senjata tradisional keris bila dilihat sekilas, bentuknya menyeramkan dan tajam berliku. Tapi coba perhatikan lebih detail dan jeli, di setiap permukaan besi keris ternyata memiliki ragam hias nan cantik. Keris Bugis, salah satu jenis keris yang punya bentuk khas dan unik. Bentuk kerisnya, selain keris lekuk (luk) juga ada keris lurus. Bugis adalah kelompok etnik berasal dari Sulawesi Selatan. Senjata tradisional Bugis yang terkenal lainnya, adalah badik, selain keris dan merupakan warisan budaya leluhur masyarakat adat Bugis.
 
Motif keris Bugis dibuat dengan teknik tempaan. Batang kerisnya memiliki permukaan yang rata, berbeda dengan keris Jawa yang permukaannya timbul. Pada permukaan rata inilah, motif tempaan dibuat di batang keris. Motif yang dihasilkan pun bukan sembarangan, si empu pembuat keris menggunakan beberapa teknik untuk menghasilkan corak yang cantik penuh makna di setiap goresannya.
 
Motif pamor  adalah hasil dari teknik lipatan tempa besi yang menimbulkan pola atau corak pada sebilah keris. Pamor pun ada banyak variasi-nya dan memiliki filosofi berbeda-beda. Seperti pamor “Gantara” (pucuk buluh atau pucuk rebung) bermakna simbol kekuasaan, kemuliaan serta kebesaran. Untuk menghasilkan suatu pamor bervariasi; ada teknik punter, yang pengerjaannya setelah melakukan tempaan pada besi keris, kemudian dipelintir hingga menghasilkan corak yang lebih meliuk-liuk.
 
Selain pada batang, keris Bugis juga punya ciri tersendiri pada gagang dan sarungnya. Beberapa gagang keris Bugis, juga tidak jarang memiliki motif. Ragam hias Keris rupanya membawa decak kagum tersendiri tatkala mata memandang dengan teliti. Lekukan, garis dan hiasan ini, menciptakan ciri yang bernilai tinggi, terutama keindahan ornamen pada keris. Bukan saja berfungsi sebagai senjata tradisional, namun senjata tradisional ini juga menyimpan pesona pada motif-motifnya yang khas.

KIRIM KOMENTAR

Disclaimer: Pembaca dapat mengirimkan komentar yang terkait artikel. Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial Satulingkar.com. Redaksi berhak menghapus komentar yang menyimpang dengan mengubah kata-kata yang tidak etis, kasar, pelecehan, fitnah, bertendensi suku, ras, agama dan antar golongan. Satulingkar.com berhak menghapus komentar negatif dan menutup akses bagi pembaca yang melakukan pelanggaran ini.

Nama :
Komentar :
Ekskursi Arsitektur UI 2014
+ lanjut
Alih Aksara Naskah Kuno

Yudhi Irawan, filolog di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Pernas RI), misalnya,  meneliti dan mengalihaksarakan Babad Pakualaman koleksi Pernas RI. Menurut Yudhi, Babad Pakualaman  berbentuk prosa (gancaran) yang mengisahkan Kangjeng Pangeran Adipati Alam I. Penelitian Yudhi sudah dibukukan oleh Pernas RI pada tahun 2009 dengan judul Fakta Sejarah Pakualaman.


+ lanjut
Kisah Wanita Belanda Dengan Tapol 65

Pada 1970-an, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melepaskan tapol. Meski begitu, mereka belum bebas karena stigma negatif sebagai tapol harus ditanggung oleh setiap tapol. Pemerintah membatasi ruang gerak para tapol. KTP merek diberi inisial ET alias Eks Tapol. Masayarakat harus mengawasi gerak gerik tapol. Jika tidak, tentara bertindak.


+ lanjut