home | · | aktual | · | budaya | · | Eloknya Tenun Ikat Flores
 
> Eloknya Tenun Ikat Flores
Kamis, 08 Desember 2011

Oleh Degina Juvita

 
Pulau Flores dikenal dengan kain tenun ikatnya yang memiliki kekhasan dengan corak warna dan motif yang beragam. Kain tenun merupakan warisan budaya yang dimiliki pulau kecil di bagian timur Indonesia itu, sebut saja dua kabupaten Maumere dan Sikka di Flores.
 
Sebuah sentra pengrajin tenun bernama Lepo Lorun, dalam bahasa Sikka artinya rumah tenun-- telah berdiri sejak 2003 di kampung Nita, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur.  Di kampung itu, para pengrajin tenun bekerja dari  remaja  hingga ibu rumahtanggamembuat kain tenun ikat.
 
Ada teknik khusus dalam menenum. Terlebih dulu seorang penenun, memisahkan kapas dari bijinya menggunakan alat bernama Keho. Setelah kapas terpisah, kemudian benang di pintal untuk menghasilkan serat benang, lalu  benang-benang yang telah jadi, digulung menggunakan Seler. Hasil gulungan benang tersebut-- dibuat sebagai bahan dasar tenun untuk menghasilkan motif ikat. Motif khas Flores ini diolah dari benang yang beraneka warna dan direntangkan pada bidang kayu yang disebut Hani.
 
Martha berusia 72, berasal dari kampung Lepo Lerun, sejak gadis sudah belajar menenun. Jari-jarinya yang kini keriput masih kuat memilin  tali-tali kewang menjadi motif ikat pada perun. “Saya biasa mengerjakan ini sendiri. Bisa menghabiskan waktu sekitar satu bulan untuk sehelai kain. Sejak muda saya sudah terbiasa menenun,” ungkap pengrajin tenun ini.
 
Setelah melalui proses yang berbelit, jadilah untaian perun sebagai cikal bakal bahan pembuat tenun. Salah satu ciri khas kain adat ini adalah menggunakan pewarna alam berasal dari buah mengkudu, kayu pohon hepang, kunyit, loba, kulit pohon mangga, serbuk kayu mahoni, serta masih banyak lagi  bahan-bahan pewarna alam. Selesai pada tahap pewarnaan, kain akan kembali dibentangkan pada Hani, kemudian melepaskan ikatan supaya motif terbentuk. Dari sinilah kemudian proses tenun dimulai.
 
Maria, cucu Martha yang juga piawai menenun menjelaskan fungsi kain tenun ikat. “Kain tenun biasa dipakai para perempuan sebagai pelengkap busana, selain sebagai selendang atau sarung,” ujarnya. Aktivitas menenun yang dilakukan Martha dan Maria mendapat perhatian pengunjung dalam acara “Katumbiri Expo 2011” yang berlangsung pada 7-11 Desember, di Jakarta Convention Centre. Pada acara ini stand Lapo Lerun, yang didirikan Alfonsa Horen, menghadirkan pembuatan kain tenun ikat secara langsung. Semua bahan dan peralatan lengkap ditampilkan di stand ini.  Sembari menenun, dua pengrajin dengan ramah menjawab pertanyaan pengunjung yang antusias mengenai proses pembuatan kain tenun ikat ini.

KIRIM KOMENTAR
Nama :
Komentar :
Energi Kreatif Lewat Kolaborasi

Kreativitas selama ini lebih banyak dikenal sebagai kemampuan individu, namun tidak sedikit penemuan dan karya kreatif yang muncul dari hasil kolaborasi. Topik inilah yang menjadi diskusi seru dalam konvensi 'Grup Genius: Kekuatan Kreatif dari Kolaborasi', Jumat (11/5) malam.


+ lanjut
Gemerlap Seribu Lampion di Atap Borobudur

Langit di atas candi Borobudur begitu indah dihias ribuan lampion yang di lepas ke udara. Ribuan lampion  menyerupai gugusan bintang gemerlap kekuningan kuning malam itu menandai berakhirnya prosesi ritual puncak perayaan Waisak tahun 2556 BE (2012).


+ lanjut
Sepucuk Surat Untuk Yang Mulia Presiden

Press Freedom Day diperingati oleh komunitas jurnalis di seluruh dunia. Kebebasan berekspresi disuarakan-- demi menghormati, memenuhi dan melindungi hak kebebasan berekspresi warga negara, seperti yang diamanatkan Pasal 19, Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).


+ lanjut