Oleh Farida Indriastuti
Foto: dokumentasi Bentara Budaya Jakarta
Ritmik gamelan, suara denting logam mengiringi Suroso menari. Suluk dilantungkan Putria penari Keraton dalam bahasa Jawa. Gerakan tari Suroso menyibak panggung yang dikelilingi lilin-lilin dengan cahaya temaram. Itulah pentas “Suluk Batik Rosso” yang dipersembahkan Suroso, seorang seniman sekaligus perancang busana yang menekuni batik warna alam.
Panggung pertunjukan tari dan musik gamelan-- beralih menjadi panggung catwalk. Para model memperagakan busana dengan cutting miring. Perancangnya terinspirasi pada gaya-gaya busana masyarakat adat di berbagai negara. “Meski cuttingnya menceng, tetap menggunakan asas keseimbangan. Saya terinspirasi pakaian adat Makasar dan Jepang,“ ujarnya.
Seniman kelahiran Bantul, Yogyakarta, pada 1970 ini—menggeluti fesyen dan dunia batik setelah belajar di PAPMI pada 1990-1991. Dan di garmen batik pada 1991-1992 hingga ia menguasai dunia fesyen sekarang ini.
Kaki-kaki jenjang para model silih berganti menghentakkan panggung. Memamerkan busana-busana batik dengan desain unik, beragam kombinasi serat kain-- dengan paduan warna-warna yang elegan, tak mencolok. Hijau, jingga, ungu hingga coklat tanah. Suroso menggunakan kain batik dari pewarna alam memadukan sutra dan serat pisang yang terdapat di lingkungannya. “Serat alam banyak saya gunakan dalam desain busana,” sergahnya.
Lalu mengapa Suroso menggabungkan tari, musik gamelan, batik dan fesyen? Ia menginterpretasi kolaborasi seni dan fesyen—agar harmonis dan saling mendukung dalam satu panggung. “Bila unsur seni dan fesyen digabungkan jadi satu menjadi kekuatan dan kebersamaan. Akan jadi gerakan yang bagus!“ terangnya.
Para peragawati berlalu-- beralih Putria menari dengan balutan kain batik melilit tubuh. Jari-jari lentiknya bergerak lembut dengan wajah merona. Ia menghibur panggung dengan tubuh sintalnya yang cergas. Putria memang penari Beksan di Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Diiringi tarian Suroso merebut kain batik dari tangan Putria. Kolaborasi gerak tari yang apik.
Suluk terdengar mengalun. Suluk berarti sastra Jawa yang mengisahkan batik sebagai warisan nenek moyang. Suroso mementaskan pagelaran itu, sekaligus sebagai penghormatan peringatan 100 tahun Sri Sultan Hamengkubuwono ke-9.
Energi seninya bersumber dari batik. Suroso mengatakan, “Saya menekuni batik sebagai proses, energi dan filosofinya luar biasa, dari kain biasa menjadi berwarna dan memiliki motif. Sama dengan perjalanan manusia dalam berproses”.
Sebab itulah ia tak monoton dengan motif dalam pakem kultur Jawa. Dalam urusan motif, Suroso lebih fleksibel. “Saya kolaborasi dan variasikan motif batik. Dari awal, saya membuat batik dan desain untuk kalangan muda,“ ujar Suroso. Begitu pun dengan pewarnaan alami, ia memanfaatkan tumbuh-tumbuhan; daun, batang, akar, kulit kayu, kulit buah hingga biji buah.
Kamis malam, 12 April, menjadi istimewa bagi penonton di pelataran Bentara Budaya Jakarta (BBJ) yang mendapat hadiah buku gratis “Dari Jogja Untuk Dunia” yang dibagikan para peragawati jelita. Buku yang mengisahkan perjalanan Suroso sebagai desainer, pembatik sekaligus seniman. Dan karya-karyanya telah dipentaskan keliling di beberapa event internasional di Singapura, Malaysia, Jerman, Belanda dan lain-lainnya.
Seperti suluk pada penutup bukunya dalam bahasa Jawa Krama Inggil, “Aja sira sumelang marga ora dipaelu ilmumu, jalaran yen ana wolak-waliking jaman, ngelmu kang sira darbeni iku bisa ugah walah nguwasani donya ini, lamun iku pancen ngelmu kang murakabi manungsa sadonya...”
Yang artinya; “Jangan kecewa sebab ilmumu tidak dihargai, sebab kalau ada perubahan jaman mungkin ilmu yang kau miliki itu malahan dapat menguasai dunia, kalau memang ilmu itu berguna untuk manusia sedunia”. Begitulah Suroso mengisahkan batik yang kini mendunia setelah diakui oleh badan PBB, UNESCO.










