Oleh Degina Juvita
Ragam hias batik memiliki banyak jenis dan ciri. Masing-masing daerah punya ciri khas di setiap motif batiknya. Batik biasanya dibuat pada kain panjang, sarung, hingga ikat kepala. Semisal batik Cirebon, Jawa Barat. Batik Cirebon termasuk golongan Batik Pesisir. Secara umum, batik Cirebon muncul dengan warna-warna kain yang lebih cerah dan berani. Selain itu, gambar motifnya juga lebih bebas, melambangkan kehidupan masyarakat pesisir yang egaliter, seperti gambar aktivitas masyarakat di pedesaan atau gambar flora dan fauna yang memikat.
Terdapat ragam hias bernama “Bang Ungon” berpadu dengan corak naga payung. Kain panjang Bang Ungon (biru-merah) ini dibuat dengan teknik tulis, dengan pewarna kimia. Adapula ragam hias batik pesisir dengan corak lunglungan mirah delima. Lung-lungan juga termasuk pola kuno. Sebagian besar pola ini memiliki ragam hias atau motif utama yang serupa dengan ragam hias utama pola semen. Batik tulis koleksi Milangoni Tjakrawerdaya ini dibuat pada 2005, didominasi warna coklat tua dan muda pada buah delima.
Lain lagi dengan batik asal Garut. Sebagian besar batik Garutan menunjukkan pengaruh Keraton Surakarta dan Yogyakarta, selain pengaruh keraton Cirebon. Ada juga pengaruh Cina dan Belanda, meski sedikit. Terdapat ragam hias Garutan, dengan corak ayam puger. Biasanya corak ayam puger dipakai pada batik Banyumas, tapi beberapa batik Garutan memakai motif yang sama, berpadu dengan ragam hias khas Garutan.
Beberapa corak lain seperti Paksi Naga Liman, Merak Kurung dan Ayam Patiran, menghiasi batik-batik asal Jawa Barat. Batik-batik ini dipamerkan di Galeri Batik, Museum Tekstil, Jakarta. Selain batik Jawa Barat, terdapat batik dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera. Beberapa di antaranya merupakan batik koleksi Hartono Sumarsono, Milangoni Tjakrawerdaya, dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas. Pameran akan berlangsung hingga 29 April mendatang.









